Momen-Momen Bersejarah Kedekatan Indonesia-Palestina – Radio Pemuda FM – Radio Online Anak Muda Indonesia
Sosial Budaya

Momen-Momen Bersejarah Kedekatan Indonesia-Palestina5 min read

Friday, 21 May 2021 | 15:30 WIB 4 min read

author:

Momen-Momen Bersejarah Kedekatan Indonesia-Palestina5 min read

Reading Time: 4 minutes

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Indonesia mempunya hubungan yang sangat baik dengan Palestina, bahkan kedekatan kedua negara ini bisa dikatakan seperti saudara dekat. Hubungan keduanya pun cukup menarik untuk diulas. Bukan hanya karena ikatan sama-sama punya penduduk mayoritas muslim. Lebih dari itu, nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi kedua negara.

Berikut ini momen-momen bersejarah kedekatan Indonesia dengan Palestina:

Pengakuan Pertama Kemerdekaan Republik Indonesia

Indonesia mengumumkan kemerdekaannya secara de facto pada 17 Agustus 1945. Namun, agar menjadi negara yang utuh, Indonesia butuh pengakuan secara de jure dari negara lain sebagai negara yang merdeka.

Palestina berdiri jadi yang terdepan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Sosok penting Palestina yang menyatakan pengakuan itu adalah Muhammad Amin Al Husaini, seorang mufti Palestina sekaligus tokoh yang disegani.

Di saat negara-negara lain belum mengakui kemerdekaan Indonesia, Palestina justru jadi yang pertama melakukannya. Tentu sikap yang sangat dibutuhkan Indonesia saat itu agar diakui sebagai negara merdeka.

Amin mengumumkan pengakuannya melalui Radio Berlin berbahasa Arab. Tak tanggung-tanggung, ia mengumumkannya dua hari berturut-turut. Hal yang tak kalah hebat, Amin memperjuangkan pengakuannya atas kemerdekaan sulit di tengah perjuangan beratnya melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai Al-Quds, Palestina.

Mendorong Pengakuan Negara Lain

Perjuangan dan perhatian Amin bersama Palestina terhadap Indonesia juga tak hanya sampai sebatas itu. Amin melakukan safari ke berbagai negara di Timur Tengah untuk mengajak mengakui kemerdekaan Indonesia. Bayangkan, di tengah kondisi sulit, Palestina justru mengupayakan pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Apa yang dilakukan Amin tak sia-sia. Mesir mengikuti langkah pengakuan kemerdekaan Indonesia setelah Palestina. Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946.

Tak hanya Amin, ada beberapa tokoh lainnya yang juga berjasa bagi Indonesia untuk meraih pengakuan tersebut. Salah satunya saudagar kaya sekaligus jurnalis Palestina Muhammad Taher Ali.

Setelah itu, berbagai negara lain mengakui kemerdekaan Indonesia hingga secara de jure Indonesia benar-benar merdeka. Di awal-awal, pengakuan kemerdekaan Indonesia datang dari negara-negara di Afrika dan Timur Tengah, di antaranya adalah Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi, Yaman, Afghanistan, Iran, hingga Turki.

Pengakuan Kemerdekaan Palestina dan Membangun Hubungan Diplomatik

Ibarat saudara kandung yang saling peduli, Indonesia menunjukkan solidaritasnya terhadap Palestina. Deklarasi Kemerdekaan Palestina oleh Dewan Nasional Palestina di Aljir, Aljazair pada 16 November 1988 mendapat pengakuan dari Indonesia.

Setahun berselang, Indonesia dan Palestina membuat kesepakatan bersama dimulainya hubungan diplomatik kedua negara. Namun, Palestina seolah tak benar-benar merdeka. Hubungan Palestina dan Israel terus memburuk yang membuat kedua negara terlibat perebutan kekuasaan atas tanahnya.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Indonesia kembali menegaskan dukungan Indonesia kemerdekaan Palestina, termasuk melalui dimulainya kembali perundingan damai, serta mengungkapkan keprihatinan Indonesia atas kondisi Palestina, termasuk dalam hal keuangan, di tengah-tengah sanksi ekonomi yang diberlakukan Israel.

Hal yang sangat tegas dan bentuk perhatian Indonesia pada Palestina, Indonesia tak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi. Yang pasti, Indonesia tak setuju dengan tindakan agresif yang dilakukan Israel terhadap Palestina.

Pengorbanan Tim Nasional Indonesia di Kualifkasi Piala Dunia

Pada tahun 1958 mimpi tim nasional Indonesia untuk tampil di ajang Piala Dunia pernah hampir menjadi nyata. Pada tahun tersebut persepakbolaan Indonesia sedang berada di puncak terbaiknya dan mendapat julukan “Macan Asia” tinggal selangkah lagi untuk lolos ke ajang Piala Dunia. Namun sayangnya di babak ini Indonesia harus bertanding melawan Israel.

Pemerintah saat itu kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan. Alhasil Indonesia mengundurkan diri dari pertandingan. Kejadian ini bukan tanpa alasan, namun sebagai bentuk dari rasa solidaritas terhadap Palestina. Meski harus membuang kesempatan emas untuk maju ke Piala Dunia dengan peluang kemenangan yang besar, Indonesia tetap teguh pendirian untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan negara Timur Tengah.

Selain itu juga, pada masa itu Israel memang tidak diakui sebagai sebuah negara.Sangat disayangkan Timnas yang kala itu berisikan pemain-pemain hebat serta pelatih yang jenius seperti Maulwi Saelan, Ramang, Tan Lion Hou dan Toni Pogacnik, akhirnya harus kalah sebelum berperang.

Namun Indonesia juga harus berbangga hati karena hal ini dipandang sebagai kebesaran hati untuk sesama. Setelah Indonesia tersisih, Timnas Wales akhirnya menggantikan posisi Indonesia untuk bertanding melawan Israel dan mengalahkan Israel dengan skor 2-0.

Sebenarnya Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang menolak untuk bertanding dengan Israel, ada tiga negara lain yang menolak bertanding dengan Israel yaitu Turki, Sudan dan Belgia dengan alasan yang tidak diketahui.

Tak hanya menolak melawan Israel di Kualifikasi Piala Dunia 1958, Presiden Soekarno saat itu juga melarang Israel mengikuti Asian Games 1962 di Jakarta. Indonesia menolak karena tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel dan Indonesia menolak memberikan visa kepada para atlet dan official Israel.

Sambutan Hangat Suporter Sepakbola Indonesia Untuk Palestina

Dari berbagai hal menarik antara Indonesia dan Palestina, ada satu yang tak kalah menarik diulas. Kedua negara dipersatukan melalui sepak bola. Bukan di tingkatan pejabat, melainkan suporter dan tentunya pemain kedua tim.

Hal ini terjadi 15 Agustus 2018. Timnas Indonesia harus menghadapi Palestina di babak penyisihan Grup A Asian Games di Stadion Patriot, Bekasi. Selayaknya pertandingan sepak bola, kedua tim bertarung mati-matian demi memburu kemenangan.

Laga berlangsung panas dan mendebarkan. Suporter pun dibuat ketar-ketir dengan permainan Palestina. Bahkan, pemain dan suporter Indonesia akhirnya harus rela menerima kenyataan pahit, yaitu kalah 1-2 di rumahnya sendiri.

Memang ada kekecewaan besar dari kekalahan itu. Namun, seusai laga, skuat Palestina justru disambut bak pahlawan. Mereka begitu dielu-elukan dan diberikan semangat luar biasa oleh riuhnya tepuk tangan, sorakan, serta nyanyian penonton di stadion.

Seusai pertandingan, para pemain Timnas Palestina berselebrasi keliling lapangan. Bukan untuk sombong atas kemenangan yang diraih, melainkan sebagai bentuk respek terhadap Indonesia, terutama suporter di stadion. Sambil berlari keliling lapangan, mereka bertepuk tangan tanpa henti sebagai bentuk penghormatan.

Salah satu yang menarik adalah di area tribun selatan. Saat pemain Palestina mendekati tribun tersebut, mereka seolah dibuat kagum dengan adanya dua bendera besar Palestina dan ada spanduk bertuliskan ‘Indonesia Will Always Stand By Your Side Palestina’ dan mereka bernyanyi ‘Palestina Ole Ole Ole’ berkali-kali. Hal itu ditutup dengan teriakan beberapa kali menyebut nama Palestina sambil bertepuk tangan. Balasan pun diberikan, para pemain Palestina bertepuk tangan atas apa yang dilakukan Indonesia.

One Comment
  1. Lukman Hakim

    Palestina-Indonesia saudara sepenanggungan, disaat Indonesia butuh dukungan untuk merdeka Palestina yang duluan mendukung... Kini giliran Indonesia..

Leave a comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start a Conversation

Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp