Berita

Masyarakat Suku Baduy Kirim Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo2 min read

Wednesday, 8 Jul 2020 | 13:37 WIB 2 min read

author:

Masyarakat Suku Baduy Kirim Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo2 min read

Reading Time: 2 minutes

Sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya, Indonesia dihuni berbagai macam suku yang menetap di segala pelosok nusantara. Kearifan lokal serta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia hingga mampu terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam. Slaah satunya suku Baduy. Kelompok etnis Sunda ini hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Luar sudah terkontaminasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun pada hari Senin 6 Juli 2020 kemarin masyarakat adat Baduy di Kecamatan Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten melalui utusan para sesepuh adat suku Baduy memberikan mandat kepada empat orang, yakni Heru Nugroho sebagai pegiat internet, Henri Nurcahyo pegiat seni dan budaya, Anton Nugroho pegiat sosial dan lingkungan, dan Fajar Yugaswara pegiat seni, untuk melayangkan surat untuk Presiden Joko Widodo.

Dalam surat tersebut, mereka meminta Jokowi untuk menghapus kawasan adat Baduy sebagai destinasi wisata. Surat tersebut juga berisi permohonan agar pemerintah dapat membantu menghapus citra satelit yang ada pada mesin pencarian google atau menjadikannya restricted area. Selain itu, masyarakat Baduy juga meminta agar foto-foto wilayah Baduy yang disucikan dapat dihapus dan dijaga agar tidak tersebar.

Surat terbuka itu dicap jempol tiga jaro atau kepala desa, yakni Jaro Saidi sebagai Tanggungan Jaro 12, Jaro Aja sebagai Jaro Dangka Cipari, dan Jaro Madali sebagai Pusat Jaro 7.

Alasan para tetua adat Baduy ingin dihapuskan wilayahnya dari peta wisata Indonesia, karena banyak dokumentasi berupa foto dan video Suku Baduy, terutama Baduy Dalam, beredar luas di masyarakat. Bahkan aplikasi Google Maps, memuat dokumentasi alam Baduy di perkampungan Cikeusik, Cikertawarna, dan Cibeo. Padahal, dalam tatanan hidup masyarakat Adat Baduy, ada larangan untuk mendokumentasikan dan mempublikasikannya ke dunia luar.

Kemudian pencemaran lingkungan dan kelestarian alam juga menjadi alasan masayarakat adat Baduy untuk menutup kawasan mereka menjadi destinasi wisata. Akibat derasnya arus pariwisata di Baduy, ditambah banyak dari mereka yang tidak mengindahkan dan menjaga kelestarian alam, banyak sampah plastik yang ditinggalkan oleh para wisatawan membuat sampah semakin menumpuk di dalam perkampungan. Padahal bagi warga Kampung Baduy Dalam, lingkungan tersebut setiap hari dipakai untuk beraktivitas seperti mandi, mencuci, dan mengambil air minum. Akibatnya banyak tatanan dan tuntunan adat yang mulai terkikis dan tergerus oleh persinggungan tersebut.

Dengan semua persoalan diatas jika terus menerus tidak diantisipasi akan menyebabkan runtuhnya nilai-nilai ada yang telah dijaga. Hal ini pun membuat para tetua adat khawatir akan runtuhnya tatanan nilai adat pada generasi berikutnya

Leave a comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.