Kuliner

3 Kedai Kopi Istimewa Persembahan Teman-Teman Difabel5 min read

Saturday, 27 Jun 2020 | 15:12 WIB 4 min read

author:

3 Kedai Kopi Istimewa Persembahan Teman-Teman Difabel5 min read

Reading Time: 4 minutes

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Di dunia kerja, teman difabel memang kerap mendapat diskriminasi, bahkan sebelum mereka mendapatkan pekerjaan. Pelamar kerja difabel seringkali tersingkir dan kalah peluang dengan pelamar umum. Sekalipun jika mereka diterima dalam bidang pekerjaan umum pun, mereka jamak dikucilkan atau dipandang rendah, seperti yang pernah dialami teman teman diafabel.

Keadaan sosial seperti ini didukung dengan adanya studi mengenai diskriminasi difabel di wilayah kerja yang pernah diterbitkan oleh Jurnal Disability & Society pada tahun 2015. Sebagai gambaran, di Australia, wilayah yang termasuk negara maju dan masyarakatnya lebih berpikiran terbuka, ternyata difabelnya pun masih mendapat diskriminasi.

Oleh karena itu para teman teman difabel sulit mendapatkan kerja di bidang pekerjaan umum, namun dengan semangat memperjuangkan kesetaraan para Anak Muda yang memilik keterbatasan pun mampu membuat lapangan kerja sendiri dan memperkejakan teman teman yang mempunya nasib sama. Berikut ini 3 Kafe istimewa tersebut.

Sunyi House of Coffee and Hope

Unik, begitu kesan yang didapat saat masuk ke dalam Sunyi House of Coffee and Hope ini. Jika kamu bertanya-tanya mengapa namanya sunyi, hal ini karena semua pengelola cafe adalah teman difabel. Mengusung tema kesetaraan.

Menu yang ditawarkan seperti kopi susu, kopi susu pandan, dan masih banyak lagi. Cemilan di sini berupa kue-kue seperti brownies dan cookies. Untuk yang ingin makan berat, ada menu andalan cafe ini yaitu Ayam Saus Wijen yang menggoda.

Sama seperti kafe kekinian lainnya interior kafe ini didominasi warna putih dan furniture berbahan rotan dan kayu sehingga konsep minimalis pun cukup kental di kafe ini. Terlebih lagi bukannya hanya enak dilihat saja tapi interior di kafe ini juga memiliki fungsi untuk teman teman difabel karena kamu akan menemukan paving yang unik untuk para tuna netra.

Tactile Paving yang memiliki 2 pola yaitu pola garis dan pola titik. Pola garis ini bertujuan untuk menandakan aman untuk dilalui, sedangkan titik menandakan hati-hati atau berhenti. Nantinya, Tactile Paving digunakan untuk teman penyandang tuna netra untuk menuntun arah berjalan mereka.

Hal menarik lainnya yang bisa kamu temukan disini adalah pengelola cafe penyandang difabel. Mulai dari barista, pelayan, dan kasir semua dilakukan oleh teman teman difabel. Dan jika ingin belajar bahasa isyarat, mereka dengan senang hati mau mengajari para pengunjung. Tentunya cafe ini tidak hanya sebuah bisnis, melainkan socialpreneur yang mempunyai arti mendalam dari sebuah bisnis coffee shop.

Selain itu ada banyak kegiatan yang bisa diikuti seperti kelas belajar bahasa isyarat bersama dengan komunitas Sahabat Isyarat.

Deaf Cafe Fingertalk

Kafe yang diberi nama Deaf Fingertalk ini sudah berdiri sejak 15 Mei 2016. Kafe ini didirikan oleh Dissa Syakina Ahdanisa, seorang perempuan yang berlatar belakang pendidikan akuntansi di Australia. Latar belakang Dissa mendirikan kafe ini untuk memberdayakan Teman Difabel, Dissa terinspirasi dari salah satu kafe di Nikaragua, Amerika Latin ketika dia menjadi sukarelawan di negara tersebut pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, Deaf Café Fingertalk ini sudah memiliki tiga cabang, yaitu di Pamulang, Cinere, dan Poso. Total karyawannya saat ini sudah mencapai kurang lebih dari 30 orang teman tuli. Karena banyaknya kesulitan dalam mempekerjakan teman tuli . Dissa dibantu oleh Pat Sulistyowati, yang merupakan Guru Besar Bahasa Isyarat Indonesia.

Tak hanya kafe, ternyata Dissa juga membuka tempat cuci motor, mobil, dan kedai kopi. Yang memperkejakan para teman teman tuli.

Sejak berdirinya kafe unik ini, sederet penghargaan banyak diraih Dissa. Mulai penghargaan sebagai tokoh Metro Award dari Majalah Tempo, tokoh inspirasi, hingga mendapat pujian dari Barack Obama.

Kopi Tuli

Kedai Kopi Tuli atau disingkat Koptul juga dijalankan oleh teman-teman tuli, mulai dari kasir sampai baristanya. Tidak hanya memperkerjakan para teman tuli tetapi Koptul yang lahir pada 12 Mei 2018 ini pun didirikan oleh tiga orang anak muda tuli.

Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso ialah salah satu pendirinya. Putri dan dua rekan lainnya, Adhika Prakoso dan Erwin Syah Putra, memang sengaja menjadikan keterbatasan mereka sebagai identitas bisnis yang mereka besarkan

Bisnis kedai kopi yang tengah menjamur belakangan ini di kota-kota besar coba dimanfaatkan Putri, Adhika, dan Erwin buat menyelipkan agenda-agenda perjuangan kesetaraan bagi teman-teman disabilitas, setidaknya untuk para penggemar kopi.

Mulai dari memesan kopi, hingga membayar di kasir, pengunjung akan berinteraksi dengan teman-teman tuli. Para staf kedai juga akan dengan senang hati duduk bersama di meja dan mengajari langsung para pengunjung yang ingin belajar bahasa isyarat. Di Koptul, pengunjung dan staf kedai memang melebur jadi teman dengar dengan teman tuli.

Putri mengaku jika bisnis yang ia jalani kental dimensi sosial. Ia yang telah merasakan pahitnya diabaikan perusahaan ketika melamar kerja akibat keterbatasan fisiknya, ingin memperjuangkan kesetaraan bagi kalangan teman disabilitas.

Interaksi yang terbangun di Koptul antara pengunjung dan pegawai jadi pintu masuk pertama, karena di sinilah kesetaraan pandangan bermula. Selain didorong mengenal dunia tuli, para pengunjung juga akan menyadari jika teman tuli sanggup berkarya pula.

Nantinya, Putri yang juga terlibat dalam Yayasan Sampaguita berencana membuka lebih banyak cabang Koptul demi memberikan akses pekerjaan yang sulit didapatkan oleh teman-teman tuli.

Hingga saat ini, Koptul sudah buka di dua tempat. Satu di Krukut, Depok, yang menandai lahirnya Koptul, satu lagi di Duren Tiga, Jakarta Selatan yang dibuka lima bulan usai Koptul memulai debutnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.