Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Batik Fractal: Dari Matematika Jadi Desain Batik

admin Sunday, 27 Mar 2016 | 13:47 WIB 0 531 Views
Batik Fractal: Dari Matematika Jadi Desain Batik

Pada Akhir 2006 lalu, ada tiga orang asal ITB berkumpul, mereka adalah Nancy, Muhammad Lukman dan Yun Hariadi. Dari hasil pertemuan tersebut menghasilkan suatu karya yang sangat unik, “Lukman yang saat itu sedang membuat tesis iseng mendesain bunga di laptopnya. Saya lihat, kok, lucu bunga itu. Malah mirip batik. Ternyata pola matematis dapat membentuk gambar geometris yang erat terlihat pada motif batik. Lalu, Yun meriset 300 motif batik Indonesia. Sebagai alat kerjanya, kami perlu software yang dirancang oleh teman-teman programmer. Jadilah sebuah software bernama JBatik,” begitu katanya.

Motif batik yang diciptakan melalui software JBatik kemudian dinamai Batik Fractal. Fractal sendiri merupakan salah satu cabang ilmu matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Semua motif batik pasti mengandung unsur ini.

Versi awal software ini kemudian dipresentasikan dalam konferensi ’10th Generative Art International Conference’ di Milan, Italia, pada 2007. Konsep Batik Fractal ini pun berhasil mencuri perhatian di konferensi tersebut. Batik fractal dianggap memiliki keunikan, karena memperlihatkan upaya pelestarian budaya yang bersanding dengan teknologi.

Di 2008, inovasi ini mendapat bantuan dana dari Business Innovation Fund SENADA USAID. Kemudian dirilislah JBatik v.1 dan fokus mendukung seniman batik di Bandung. Sejak itu, Piksel Indonesia mendukung para pengrajin batik di seluruh Indonesia, terutama di Jawa dan Bali”. Selanjutnya pada 2009, Batik Fractal pun terjun ke bisnis batik. Tantangan membangun bisnis Batik Fractal ini adalah modal awalnya yang tergolong minim, hanya Rp 1 juta. Tak mudah membuat Batik Fractal diterima masyarakat Indonesia. Demi mengerti teknik dan proses pembuatan batik tradisional, Nancy dan teman-temannya keliling Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dengan dana sendiri.

Nancy dan teman-temannya menciptakan fashion Batik Fractal, para seniman batik tradisional yang diberi pelatihan, ikut ambil bagian sebagai pemasok kain batik. Yang menarik, peminatnya justru lebih banyak dari luar negeri. Dikatakan Nancy, permintaan terbesar adalah dari Australia dan Kanada. Alasan ini pula yang membuat Nancy semangat membidik pasar luar negeri. (Fariz)

Berikan Komentar: