Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Temukan Sisa Peninggalan Pra Sejarah di Desa Adat Bena, Flores

admin Thursday, 7 Apr 2016 | 14:37 WIB 1 589 Views
Temukan Sisa Peninggalan Pra Sejarah di Desa Adat Bena, Flores

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Tanah Flores selain kaya akan pariwisata alam lautnya yang kini digandrungi wisatawan ternyata menyimpan sisi lain dari sisa peninggalan sejarah. Di pulau ini masih dapat ditemui jejak-jejak peninggalan zaman pra sejarah yang masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Tapi tau ga sih anak muda, ternyata dahulu pernah ada temuan fosil manusia purba Homo Floresiensis, di sebuah daerah yang letaknya tak jauh dari Ruteng itu ditemukan pula sisa peninggalan masa pra sejarah peradaban zaman megalithikum yang masih dijaga.

Ada sebuah desa milik masyarakat lokal yang masih sangat mengedepankan sisi tradisional yang dipertahankan sejak zaman nenek moyang. Desa ini biasa disebut dengan Desa Bena yang saat ini menjadi daya tarik pariwisata Bajawa di sektor budaya yang mulai sering dikunjungi wisatawan saat singgah di Bajawa

Sisi tradisional dari desa ini dapat langsung dilihat dari bangunan-bangunan rumah yang ada di desa ini. Atap yang terbuat dari rumbia-ijuk serta berdinding kayu yang jauh dari sentuhan modernisasi. Untuk menuju desa ini dari kota Bajawa, Anak muda bisa naik ojek dari dekat kawasan Pasar Bajawa dengan tarif 20-30an ribu rupiah tergantung pintar-pintarnya anak muda menawar atau bisa juga menempuhnya dengan naik angkot yang full music khas Flores dengan tarif 5 ribu rupiah. Untuk sampai ke desa ini kira-kira bisa ditempuh selama 30 menit.

Desa Bena ini tepatnya terletak di kawasan Tiworiwu yang terletak tepat di lereng Gunung Inerie, maka tak heran bila suasana memasuki desa ini sejuk sekali. Desa Adat Bena lebih populer juga dengan sebutan Desa Megalithikum karena peninggalan-peninggalan zaman batu tersebut mudah ditemui di sini dan masih dijaga keasliannya sejak ribuan tahun lalu. Percampuran sisi tradisional adat dan sejarah zaman batu adalah kesan pertama yang akan anak muda lihat ketika memasuki lingkungan perumahan penduduk desa Bena. Di Bena terdapat sembilan suku yang menghuni 45 rumah. Kesembilan suku itu adalah suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Yang membedakan satu suku dengan suku lainnya adalah tingkatannya sebanyak 9 tingkat. Tiap suku berada di satu tingkatan, suku Bena sendiri berada di tengah dan dianggap suku paling tua dan pendiri kampung dan karena itulah nama kampung ini kampung Bena.

Benda-benda peninggalan sejarah zaman Megalithikun yang anak muda pernah pelajari dari buku sejarah bisa ditemuin di sini loh seperti meja batu, menhir, kubur batu, dan lain-lain. Semua benda itu pun masih suka digunakan berdasarkan fungsinya masing-masing. ada keunikan juga pada susunan rumah-rumah di sini yang membentuk huruf U, dan di setiap rumah memiliki hiasan atap yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut berdasarkan garis keturunan yang berkuasa dan tinggal di rumah tersebut.

Bila dari garis keturunan laki-laki maka atap rumah adalah boneka kecil, dan bila dari garis keturunan perempuan maka atap rumah akan dihiasi degan miniatur rumah kecil. Rumah keluarga inti laki-laki dinamakan sakalobo sedangkan rumah keluarga inti perempuan disebut sakapu’u. Adat istiadat yang berlaku di desa ini juga unik untuk diketahui seperti perayaan tahun baru suku mereka yang berbeda dari kebanyakan orang, yaitu setiap tanggal 15 Januari. Pada saat itu pula semua anggota keluarga mereka yang merantau ke kota akan kembali pulang sehingga perayaan tahun baru akan ramai dan semarak. Perayaan yang dilakukan adalah melakukan upacara-upacara tertentu serta dihiasi pesta menari dan juga potong hewan babi atau kerbau yang dinikmati bersama satu kampung.

Uniknya, di desa Bena ini pihak yang berkuasa adalah pihak wanitanya sebab menganut garis keturunan matrilineal. Walau masih dikatakan tradisional, namun masyarakat desa Bena sudah banyak yang memeluk agama Kristen berkat akulturasi dengan penyebar Kristen dari Portugis yang datang ke Flores pada abad ke 16. Maka, di sini juga akan ditemukan beberapa kuburan yang diberi tanda salip di atasnya. Satu hal yang hebat juga dari Desa Bena yaitu keramahan warganya dalam menyambut wisatawan. Wisatawan yang datang tak sungkan-sungkan dipersilahkan masuk ke rumah penduduk yang ditemui lalu diberi jamuan makanan kecil ataupun minuman layaknya tamu yang datang berkunjung ke rumah. Walaupun tradisional tetapi penduduk desa Bena saat ini sudah sadar wisata sehingga mereka merawat keasrian dan keaslian desa nya supaya bisa mengundang wisatawan yang datang.

Kalau anak muda ingin datang kesini tidak akan dikenakan tarif tiket masuk, akan tetapi anak muda diharapkan memberikan sumbangan sukarela untuk biaya pemeliharaan kampung. Warga Bena bekerja sebagai petani, untuk pihak wanitanya biasanya suka menenun kain khas Flores yang juga dijual untuk wisatawan dengan harga sekitar 300 ribuan. Untuk yang lebih murah anak muda juga bisa membeli syal tenunan tangannya dengan harga 75 ribu rupiah.

Pemandangan Desa Bena yang klasik tradisional bisa anak muda nikmati juga dari atas, tepatnya dari bukit yang berada di depan desa. Jejeran rapi rumah-rumah penduduk memberikan kesan indah tersendiri di tengah suasana kampung yang sedikit berbeda karena masih banyak nya ornament batu purbakala.

Nah itu salah satu dari ribuan desa adat yang ada di Indonesia yang patut anak muda datangi disaat liburan karena akan merasakan kehidupan dari masa zaman batu yang masih anak muda nikmati dan resapi bersama keramahan penduduknya yang mengesankan, Enjoy. (Fariz)

1 Komentar »

  1. Rejeki Nomplok Thursday, 7 Apr 2016 | 20:16 WIB at 20:16 WIB - Reply

    Wah menarik banget, temanku juga ada yang dari flores, sering cerita keindahan alamnya dan juga adatnya.
    luar biasaa 🙂

Berikan Komentar: