Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Taman Waruga: Warisan Leluhur Masyarakat Minahasa

admin Friday, 1 Apr 2016 | 13:16 WIB 0 424 Views
Taman Waruga: Warisan Leluhur Masyarakat Minahasa

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Di Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, ada sebuah kawasan pekuburan kuno yang dinamakan Taman Waruga. Inilah makam leluhur masyarakat Minahasa. Warga setempat biasa menyebutnya Waruga, yang jaraknya sekitar sekitar 100 meter dari jalan raya Desa Sawangan.

Waruga ini, sudah ada sejak 12 abad lalu. Ada beberapa versi tentang asal usul nama waruga. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “waruga” berasal dari kata “maruga” (bahasa Tombulu, Tondano, Tonsea) yang artinya “direbus”. Versi kedua mengatakan bahwa “waruga” berasal dari kata “meruga” (bahasa Minahasa Kuna) yang berarti “lembek” atau “cair”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa “waruga” berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi, waruga dapat diartikan sebagai “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”.

Waruga-waruga ini terbuat dari batu dengan lebar rata-rata 1 meter dan tinggi 1-2 meter, terdiri atas dua bagian yang berfungsi sebagai wadah dan tutup. Bagian tutup waruga bentuknya menyerupai atap rumah yang menjulang tinggi. Di bagian tutup ini banyak dipahatkan berbagai macam hiasan berupa: manusia dalam berbagai posisi, binatang, benda alam, tumbuh-tumbuhan, matahari, tumpal, untaian permata, rumbai-rumbai, ragam hias geometris dan lain-lain.

Namun ada juga tutup yang polos tak berhias. Inilah waruga-waruga yang paling awal dan tua, di mana waktu itu, masyarakat belum mengenal seni tulis maupun pahatan. Menurut Anton Jatuna, “juru kunci” yang mengelola makam tersebut, hiasan-hiasan tersebut merupakan gambaran situasi surgawi atau gambaran situasi saat orang yang ada di dalamnya. hiasan-hiasan itu juga merupakan gambaran profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, apabila di waruga tersebut ada gambar binatang, maka orang yang dikubur di dalamnya, dahulunya adalah seorang pemburu. Atau hiasan orang yang sedang bermusyawarah, maka dahulu orang yang dikuburkan di waruga itu adalah seorang Dotu Tangkudu (hakim).

Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Secara perlahan, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung, kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah.
Sekitar abad 9 Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut (jongkok). Konon tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara.

Waruga ini kuburan tua di Minahasa, terbuat dari batu bukan cor. Dipahat 2 bagian untuk tutup dan tempat penyimpanan jenazah. Jenazahnya (ditaruh) dalam batu bukan dalam tanah, setelah itu diletakkan dalam posisi jongkok karena untuk dikembalikan ke posisi (seperti) waktu dalam kandungan.

Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga dan tradisi mengubur mayat dalam waruga ini juga berhenti karena muncul wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga (bibit penyakit keluar melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkupnya) lalu atas instruksi Hukum Tua (kepala desa), waruga-waruga yang tersebar diseluruh desa dikumpulkan dan di taruh di pinggir desa. Hal ini dilakukan agar warga desa tidak terjangkit wabah penyakit yang disebabkan oleh mayat yang membusuk tadi.

Waruga ini juga dipakai untuk keluarga, jadi bukan hanya untuk satu orang. Ada yang 1, 2, 8, hingga paling banyak 12. Jadi, motifnya macam-macam, ada motif garis-garis, itu menandakan berapa isinya (jenazah) di dalam. Pada bagian depan kompleks kubur Waruga terdapat sebuah museum yang bentuknya berupa rumah panggung khas Minahasa. Di dalam museum itu terdapat beberapa lemari kaca yang menyimpan berbagai macam cincin, gelang, kalung, keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching, tulang belulang manusia dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut adalah isi dari waruga yang telah dibongkar dan dipindahkan ke dalam museum.

Banyak orang terkenal yang pernah datang ke kompleks waruga ini, yaitu: Ratu Beatrix dari Belanda yang pernah datang tahun 1995, Ratu Juliana pada tahun 1971, dan Pangeran Bernard. Taman Waruga ini sudah diusulkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995. Semoga saja, dalam waktu dekat, hal itu segera terwujud. (Fariz)

Berikan Komentar: