Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Tradisi Pekandake-kandea : Ajang Anak Muda Buton Mencari Jodoh

admin Sunday, 9 Oct 2016 | 14:57 WIB 0 200 Views
Tradisi Pekandake-kandea : Ajang Anak Muda Buton Mencari Jodoh

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Tradisi pekandake-kandea dalam bahasa Wolio berarti makan-makan. Tradisi ini memiliki banyak makna tidak sekadar sebagai bentuk nyata rasa syukur kepada Tuhan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan atau puasa syawal. Akan tetapi, Di dalam buku Profil Pusaka Kota Baubau yang diterbitkan Bappeda Kota Baubau (2014) disebutkan, ritual pekande-kandea juga dilakukan untuk acara pertemuan muda-mudi. Lewat acara ini, banyak pemuda menemukan jodoh. Biasanya para pemuda memilih dulu gadis yang disukainya sebelum pekande-kandea dimulai. Sejurus setelah ada aba-aba, pemuda itu memburu tempat di depan talang yang ditunggui gadis pujaan.

Pada zaman dulu, pekande-kandea merupakan tradisi untuk menyambut pulangnya para laskar Kesultanan Buton dari medan perang. Jika para laskar tersebut kembali dengan membawa kemenangan, pekande-kandea jauh lebih meriah lagi. Para gadis bersiap dengan makanannya untuk menyuapkannya ke para anggota laskar yang lelah sebagai penghargaan atas perjuangan mereka di medan laga.
Tradisi pekandake-kandea biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri atau awal bulan Syawal. Tradisi tersebut merupakan warisan nenek moyang suku buton dan sudah berlangsung selama berabad-abad. Bagi masyarakat Buton, tradisi ini merupakan kebanggaan yang harus terus dilestarikan mengingat nilai dan fungsinya dalam kehidupan sosial. Sebuah warisan tradisi yang tidak bisa dinilai oleh nominal angka.

Dalam prosesi adat ini, panitia ritual menyiapkan talam yang berisikan makanan, dan dijagai para gadis-gadis di desa setempat untuk melayani masyarakat yang ingin makan. Sebelum acara dimulai, sekumpulan anak gadis akan berdandan dengan berpakaian adat kombo wolio. Berikutnya mereka akan duduk manis menjaga nampan yang dibawa masing-masing. Nampan tersebut terbuat dari perak berisi berbagai Makanan yang merupakan campuran menu khas Buton dan lauk sesuai kreasi tuan rumah. Dan makanan yang harus ada, antara lain waje (wajik), cucur, baruasa (ketela dicampur kelapa parut dan gula), dan bholu (kue bolu). Untuk lauk, sup ikan atau parende yang sungguh sedap itu menjadi menu wajib. Ikan dole juga luar biasa enaknya. Lalu ada sayur konduru, sejenis labu yang dimasak dengan santan, dicampur dengan kelapa parut.

Ketika acara dimulai, dua orang panitia akan tampil untuk mengucapkan wore sebagai penanda. Kemudian keduanya akan mengucapkan pantun dengan bunyi “Maimo sapo lapana puuna gau“ dan “Katupana Mia bari ‘amatajamo“ yang ditemani alunan musik kadandio dan dounauna yang indah.

Remaja pria dan tamu berkesempatan untuk duduk menghadap nampan berisi kue tradisional tersebut. Sebelum berkesempatan menikmati kue-kue tersebut, para pemuda akan menyampaikan isi hatinya dengan berpantun dan irama lagu. Kemudian para gadis akan memberikan suapan kue kepada para pemuda sebagai tanda terima kasih.

Pengunjung yang ikut menikmati kue-kue tersebut dapat memberikan sejumlah uang sesuai kerelaan kepada para gadis tersebut sebagai bentuk terima kasih. Selama prosesi tradisi berlansung, pengunjung yang datang akan dihibur berbagai acara adat berupa lagu dan musik daerah dengan tabuna beduk. Di akhir acara, para gadis, anak-anak dan masyarakat umum lainnya boleh ikut serta dalam parade kombo wolio.

Salah satu desa yang ditunjuk Pemerintah Buton untuk menghelat tradisi ini setiap tahunnya adalah Desa Tolandona, Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini bukan tanpa alasan kuat, menurut catatan sejarah masyarakat Tolandona bahwa dahulu ada empat kesatria Tolandona yang berjuang untuk mempertahankan keutuhan Kesultanan Buton dalam konflik yang menelan banyak korban jiwa. Sekitar 2 ribu masyarakat Tolandona diyakini merupakan keturunan langsung keempat ksatria tersebut. (Fariz)

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: