Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Seba, Perjalanan Spiritual Baduy

admin Tuesday, 26 May 2015 | 15:25 WIB 0 614 Views
Seba, Perjalanan Spiritual Baduy

DIDORONG rasa kasih, warga Baduy Dalam, Banten, menempuh perjalanan jauh. Berjalan kaki menempuh jarak sekitar 115 kilometer, beragam hasil bumi disampaikan kepada Bapak Gede. Bukan upeti, melainkan bentuk ketulusan dan keikhlasan semata yang diungkapkan setiap tahun.

Sejak Kamis (23/4/2015), warga Baduy Dalam bertolak dari kediamannya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, hingga Sabtu (25/4/2015). Perjalanan diawali naik-turun bukit dan lembah sebelum sampai di jalan raya. Dalam arak-arakan yang teratur dan apik, 73 orang menerjang terik dan hujan.

Tanpa alas kaki, perjalanan dilakoni sesuai dengan tradisi yang tak membolehkan warga Baduy Dalam memakai sandal dan sepatu. Setibanya di Kota Serang, Banten, mereka bergabung dengan saudara-saudaranya, 1.884 warga Baduy Luar yang tiba terlebih dulu dengan menumpang bus.

Adat istiadat Baduy Dalam yang tak boleh naik kendaraan berbeda dengan Baduy Luar yang masih dapat menggunakan kendaraan. Secara bersama-sama, rombongan Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan berdampingan menyusuri jalan-jalan utama Kota Serang. Mereka menuju Pendopo Lama Gubernur Banten dan tiba sekitar pukul 17.00.

Acara puncak Seba Baduy digelar sekitar pukul 19.00 di depan bangunan cagar budaya yang didirikan pada 1821 itu. Di tangga pendopo, terlihat puluhan karung berisi, antara lain, pisang, talas, dan gula merah yang dipersembahkan warga Baduy. Mereka duduk di depan pendopo dengan tertib.

Dalam buku Potret Kehidupan Masyarakat Baduy yang ditulis Djoewisno MS dan diterbitkan Cipta Pratama Adv tahun 1987, seba berarti ’sowan’ atau ’berkunjung secara resmi’. Tokoh yang dituju adalah Bapak Gede atau pemimpin pemerintahan di wewengkon (daerah) setempat.

Seba hakikatnya mempererat korelasi warga dengan pemimpin. Juru bicara warga Baduy, Jaro Dainah, pertama-tama menyampaikan maksud kedatangan pihaknya yang hendak bersilaturahim. Warga Baduy juga berharap, Banten ke depan lebih maju. Di situlah esensi acara terjalin.

Seba Baduy tak melulu berisi unggah-ungguh. Sebagai kawula, sudah tentu lazim jika mereka mengingatkan pemimpinnya. Dainah, misalnya, tanpa segan meminta alam dilestarikan. ”Kami wajib mengingatkan. Kalau dirusak, lingkungan bisa menimbulkan bencana,” tuturnya.

Dainah juga meminta aparat patuh kepada hukum dalam menjalankan tugas. Meskipun warga adat jauh dari terpaan media, Dainah secara menakjubkan mampu menyampaikan isu-isu aktual. Dainah berbicara soal sikap anti narkoba, antisipasi kekerasan dengan cinta damai, dan supremasi hukum tanpa tebang pilih.

Di teras Pendopo Lama Gubernur Banten, Dainah bersama beberapa tokoh Baduy Dalam dan Baduy Luar khidmat bersila. Pengharapan, pertanyaan, dan doa menjadi kulminasi Seba Baduy terhadap Bapak Gede, yang dalam hal ini adalah Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno.

”Seba Baduy adalah silaturahim. Tak hanya menarik dari seni budaya dan pariwisata, tapi juga ada amanat yang perlu kita cerna bersama,” kata Rano.

Banyak suri teladan yang patut ditiru dari kearifan lokal warga Baduy dengan prinsip lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Artinya, masyarakat Baduy hidup apa adanya tanpa menambah atau mengurangi.

Berbaur
Seusai acara puncak, tokoh Baduy, petinggi pemerintahan daerah, dan warga Serang berbaur tanpa jarak. Rano berbincang dengan warga Baduy dan larut dalam kerumunan. Warga Baduy yang bermalam di Pendopo Lama Banten pun disuguhi hiburan wayang golek. Sejumlah warga Serang asyik berfoto bersama mereka.

Penulis buku Saatnya Baduy Bicara yang diterbitkan Bumi Aksara dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang tahun 2010, Asep Kurnia, mengatakan, Seba Baduy telah berlangsung dalam kurun waktu yang amat panjang. Seba Baduy dilaksanakan sebelum Kesultanan Banten berdiri pada abad ke-16 Masehi.

”Tidak diketahui kapan pastinya pertama kali digelar. Baduy tak punya budaya tulis. Hanya budaya ingatan, budaya lisan,” kata Asep yang juga mengikuti perjalanan Seba Baduy. Hanya cerita warisan yang tersisa. Namun pastinya, Seba Baduy menjadi perjalanan spiritual bagi mereka yang menjalani.

Selain interaksi dengan Bapak Gede, bentuk spiritualisme lainnya adalah warga Baduy menyucikan diri. Warga Baduy Dalam mandi di Sungai Cigowel dan Baduy Luar di Sungai Cibanten. Dorongan untuk berkomunikasi langsung dengan Bapak Gede pula yang membuat warga Baduy Dalam rela mengayunkan langkah berhari-hari.

Akan tetapi, seba dalam arti lebih dalam masih jarang digali. Seolah-olah, Seba Baduy bertujuan menyerahkan upeti berupa hasil bumi. ”Padahal, itu adalah bentuk kasih sayang kepada pemimpinnya. Ruh Seba Baduy tidak ditelaah. Jangan salah tafsir. Bukan upeti,” papar Asep.

Tahun baru
Seba juga dilakukan untuk merayakan Tahun Baru Baduy. Warga Baduy memiliki penanggalan adat sendiri. Hanya selama rentang waktu 10 hari pertama, Seba Baduy bisa dilangsungkan. ”Kalau dilangsungkan tiga hari, itu pikiran secara sistematis saja. Warga Baduy berlogika dalam mengukur jarak dan kekuatan,” ujar Asep.

Maka, lanjut Asep, jangan menganggap warga Baduy bodoh karena mereka juga berpikir. Hanya laki-laki yang berumur 10 tahun atau lebih boleh mengikuti Seba Baduy. ”Kalau perempuan tidak ikut itu ada alasannya. Masa, rumah dan anak ditinggalkan. Siapa yang mengurus,” kata Asep.

Toleransi yang tinggi juga ditunjukkan dalam Seba Baduy. Warga Baduy Dalam yang sakit harus tetap melanjutkan perjalanan meskipun harus digendong rekannya. Jumlah warga yang pergi dan kembali harus sama. Asep menambahkan, warga Baduy pun membawa bekal meskipun tidak selalu makanan sesuai perkembangan zaman.

”Kalau beras, terasi, dan ikan asin itu zaman dulu. Sekarang, nasi mungkin dibawa, tapi untuk bekal sampai jarak tertentu,” ujar Asep. Selanjutnya, mereka biasa membeli makanan. Warga Baduy memang sudah mengenal mata uang dari menjual kerajinan, madu, dan tas.

Setelah menuntaskan kunjungan, Minggu (26/4/2015), warga Baduy berkemas dan pulang. Jika warga Baduy Dalam sudah melangkah sekali, tabu pulang sebelum tiba di tujuan. Itu semua demi tugas ngasuh ratu ngajayak menak, mageuhkeun tali duduluran (membimbing para pemimpin negeri, memperkokoh persaudaraan). (Dwi Bayu Radius)

Sumber: Kompas.com

Berikan Komentar: