Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Perang Pandan: Peperangan Tanpa Rasa Dendam

admin Selasa, 11 Okt 2016 | 12:56 WIB 1 253 Views
Perang Pandan:  Peperangan Tanpa Rasa Dendam

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Setiap suku di Indonesia memiliki tradisi unik tersendiri, yang tentu memiliki karakteristik masing-masing. Ada banyak tradisi yang dimiliki masing-masing suku, namun kesemuanya itu menunjukkan penghormatan. Ya, penghormatan baik terhadap para leluhur, alam sekitar, sesama manusia, maupun kepada Sang Pemilik Kuasa.

Salah satu tradisi unik di Bali, khususnya di Desa Bali Aga Tenganan adalah Mekare-kare atau Geret Pandan atau Perang Pandan. Perang pandan adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali. Perang pandan juga disebut dengan istilah makere-kere. Upacara perang pandan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing. Peran pandan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk menghormati dewa Indra atau Dewa perang. Perang pandan merupakan bagian dari ritual Sasih Sembah. Sasih sembah ialah ritual terbesar yang ada di Desa Tenganan. Upacara perang pandan dilaksanakan di Desa Tenganan yang merupakan salah satu desa tertua di pulau Bali. Desa ini dikelilingi oleh bukit seperti benteng dan ritual perang pandan dilakukan di depan balai pertemuan desa Tenganan.

Jaman dahulu daerah Tenganan di pimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Maya Denawa. Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa. Selain menganggap dirinya Dewa, Maya Denata juga melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denata sebagai dewa membuat murka para Dewa, kemudian Dewa Indra diutus untuk melawan Maya Denata. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra dimenangkan oleh Dewa Indra. Peperangan antara Maya Denata dan Dewa Indra tersebut kini di peringati masyarakat Desa Tenganan dengan upacara perang pandan, karena Dewa Indra adalah dewa perang.

Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga menggunakan sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang pandan terbuat dari rotan yang dianyam.

Perang pandan dilakukan oleh pemuda desa Tenganan dan luar desa Tenganan. Pemuda dari dalam desa berperan sebagai peserta perang pandan sedangkan pemuda dari luar desa sebagai peserta pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga sudah turut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara ini juga dapat menjadi simbol seorang anak sudah beranjak dewasa.

Perang pandan diiringi musik gamelan seloding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah.

Upacara perang pandan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, kemudian dilanjutkan ritual minum tuak bersama. Tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan yaitu sejumlah dua orang. Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lainnya sealam datu menit lalu bergantian dengan pasangan lain.

Meskipun tubuhnya berdarah, pada peserta tetap terlihat senang karena hal itu adalah salah satu ungkapan syukur mereka dan cara menghormati Dewa Indra. Selesai prosesi perang pandan ini, luka gores yang kebanyakan di punggung diobati oleh ramuan tradional dari bahan kunyit dan dikenal begitu ampuh menyembuhkan luka. Acara selanjutnya setelah perang usai adalah melakukan sembahyang di pure. Uniknya, Meskipun peserta terluka tetapi tidak ada dendam di antara peserta meski mereka sempat saling menyakiti, itu adalah sebuah rangkaian upacara persembahan yang dilakukan dengan tulus ikhlas. (Fariz)

Foto: Guidenbali

line at radio pemuda fm

1 Komentar »

  1. madu kandungan Rabu, 12 Okt 2016 | 8:05 WIB at 8:05 WIB - Reply

    kasihan yang badannya kecil, pasti kalah terus tuh

Berikan Komentar: