Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Makna Hari Pahlawan dan Mengenal 4 Pahlawan Nasional Baru Milik Indonesia

admin Saturday, 11 Nov 2017 | 15:03 WIB 0 2 Views
Makna Hari Pahlawan dan Mengenal 4 Pahlawan Nasional Baru Milik Indonesia

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Anak muda apa yang terlintas dipikran kalian dengan kata “Pahlawan”? Saat kita masih kecil mungkin kita mendefinisikan sosok pahlawan seperti tokoh-tokoh fiksi dalam film & kartun terkenal superhero lainnya. Mulai beranjak remaja sepertinya kita mulai mempunyai gambaran ideal sosok seorang pahlawan dalam diri kita masing-masing. Namun pahlawan yang diperingati sebagai hari nasional tentu saja bukan pahlawan semacam itu. Pahlawan yang diperingati ialah untuk mengenang jasa mereka terhadap negara.

Tanggal 10 Nopember dipilih menjadi Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut pasukan Indonesia melakukan perang pertama dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertempuran tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2017, Presiden Joko Widodo memberikan anugerah gelar pahlawan nasional kepada 4 tokoh pahlawan, yang berasal dari empat wilayah Indonesia. Acara penganugerahan ini berlangsung di Istana Negara, Jakarta. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, ini 4 tokoh pahlawan yang diberikan gelar pahlawan nasional. Siapa saja kah Pahlawan nasional baru milik Indonesia tersebut, berikut ulasannya;

1. Alm. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru Kiau Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Zainuddin seorang ulama yang lahir pada 20 April 1908. Beliau memiliki jasa pada perkembangan nasionalisme dan agama di NTB, mulai dari memoderenisasi lembaga pendidikan Islam di era penjajahan, pelopor penyerangan markas NICA, hingga melakukan propaganda anti Belanda. Fyi, beliau juga mendapat julukan santri jenius karena berhasil menyelesaikan studi di Mekkah dengan predikat istimewa.

Di Madrasah al-Shaulatiyah, Zainuddin hanya perlu waktu 6 tahun untuk menyelesaikan studinya itu. Padahal waktu normal belajarnya mencapai 9 tahun. Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Bahkan, ijazahnya yang ditulis tangan langsung secara istimewa oleh seorang ahli khath terkenal di Mekkah, al-Khathtath Syaikh Dawud ar-Rumani.

2. Almh. Laksamana Malahayati

Pahlawan perempuan Laksamana Malahayati berasal dari Aceh. Laksamana Malahayati pernah menjadi sebagai kepala protokol kerajaan Aceh, sebelum akhirnya ia membentuk pasukan Inong Balee. Beliau membentuk pasukan ini disebabkan karena suaminya gugur dalam sebuah peperangan dan dengan tujuan untuk memperjuangkan nasib Aceh dan perempuan janda. Pada 11 September 1599 Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam satu pertempuran. Atas keberaniannya itulah, Malahayati kemudian mendapat gelar Laksamana.Hal ini pula membuktikan sekali lagi bahwa perempuan memiliki kesamaan derajat dalam bernegara serta mampu berdiri membangun bangsa

3. Alm. Sultan Mahmud Riayat Syah

Sultan Mahmud Riayat Syah berasal dari Kepulauan Riau. Beliau dilantik menjadi Sultan saat usianya masih belia. Jasanya selama masih hidup adalah memerintahkan perjuangan melawan penjajah dalam perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada 1784 dan menguatkan persaudaraan antara Melayu dan Bugis lewat ‘sumpah setia’ dan pernikahan antara kedua belah pihak. Selain itu, beliau juga banyak menulis kitab-kitab ajaran agama Islam dan sastra Melayu.

Sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmud Syah III terlibat dalam pertempuran melawan penjajah Belanda di antaranya perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada tahun 1784. Selain beberapa kali bentrok dengan Belanda, Sultan Mahmud Syah III juga memperkuat armada perangnya dan membangun pusat-pusat ekonomi. Sultan Mahmud Syah III juga mempererat hubungan dengan beberapa kerajaan lain seperti Jambi, Mempawah, Indragiri, Asahan, Selangor, Kedah dan Trenggano.

4. Alm. Prof. Drs. Lafran Pane

Lafran Pane berasal dari Yogyakarta. Beliau diberikan gelar pahlawan bukan karena terlibat peperangan, tapi mendorong pertumbuhan gerakan pemuda di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, beliau pernah menjadi dosen di sejumlah universitas di Yogyakarta.

pria kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 5 Februari 1922 berhasil menanamkan semangat bela negara, rasa cinta tanah air, dan semangat persatuan, kepada salah satu kelompok strategis di masyarakat, yaitu mahasiswa. Saat itu, Lafran ingin HMI mengambil posisi tidak terlibat dalam berbagai polarisasi ideologi yang berkembang pasca-kemerdekaan atau independen dari berbagai kepentingan. Kelompok yang dimaksud adalah kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, negara sosialis, serta kelompok menginginkan Indonesia menjadi negara komunis.

Namun Pernahkah kita merenungkan apa arti penting pahlawan dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara? sangat disayangkan peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda makin kurang dalam menghayati makna hari pahlawan itu sendiri.

Kita yang hidup di era seperti sekarang tidak perlu ikut wajib militer untuk ikut berperang dalam membela negara agar menjadi seorang pahlawan.Kita hanya perlu mengedepankan hidup jujur dalam berbangsa dan bernegara demi mewujudkan Indonesia yang damai,adil dan makmur. Hendaknya peringatan yang kita peringatkan tidak hanya menjadi ajang seremonial tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini.

Seperti kata Bung Karno ; Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah. (Frigi)

Berikan Komentar: