Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Maakeq Boyang: Cara Unik Pindah Rumah Milik Masyarakat Polewali Mandar

admin Saturday, 15 Jul 2017 | 11:00 WIB 0 78 Views
Maakeq Boyang: Cara Unik Pindah Rumah Milik Masyarakat Polewali Mandar

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Masyarakat pada umumnya dalam melakukan pindahan rumah dengan menyewa truk besar untuk mengangkut barang barang serta perabotan dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Namun hal ini berbeda jika anak muda datang ke Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Masyarakat Mandar memiliki tradisi unik dalam memindahkan rumah atau dalam bahasa lokalnya disebut “maakkeq boyang” salah satu kebiasaan masyarakat Mandar yang sudah jarang terlihat pada jaman sekarang. Tradisi unik ini berupa sebuah rumah dipindahkan posisinya dari tempat satu ke tempat yang lainnya dengan diangkat beberapa meter dari permukaan tanah lalu ditempatkan pada posisi atau lokasi yang baru.

Tradisi ini merupakan warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur di tanah Mandar yang pada zaman dahulu rumah panggung adalah arsitektur yang medominasi, potret kebersamaan dalam melihat beban yang berat dan kemudian ringan ketika ia dipikul bersama-sama ini tumbuh pada budaya masyarakat Mandar.

Proses untuk memindahkan rumah panggung yang berukuran cukup besar ini dilakukan dengan cara dipikul. Potret memindahkan rumah di daerah Mandar dilakukan secara gotong royong bersama-sama dan dalam waktu yang serempak. Biasanya jenis rumah yang diangkat adalah rumah panggung yang terlebih dahulu dengan memindahkan isinya  agar beban yang ditanggung saat rumah dipindahkan sedikit berkurang. Saat hanya tertinggal bagian rangkanya saja, lalu kemudian rumah tersebut diangkat secara bersama-sama.

Tradisi mengangkat rumah ini biasa dilakukan pada hari Jumat, tepat setelah para pria di Mandar  menunaikan ibadah shalat Jumat. Hari Jumat juga biasanya merupakan hari libur melaut bagi nelayan disana sehingga jumlah pria lebih banyak dari hari biasanya.

Tradisi ini juga ditemani dengan berbagai macam kuliner. Budaya atau kebiasaan yang telah berlaku di daerah Mandar adalah si pemilik rumah yang rumahnya diangkat biasnya menyediakan jamuan bubur kacang hijau yang disebut “uleq-uleq bue” satu kuliner khas yang selalu dihubungkan dengan rumah, seperti mendirikan rumah, dan memindahkan rumah maka “uleq-uleq bue” selalu wajib ada. Cendol juga menjadi kuliner yang selalu ada menemani bubur kacang hijau sebagai pelengkap. Tentu saja minuman kopi, teh dan penganan ringan sering menemani kuliner lainnya yang disajikan.

Sayangnya tradisi ini mulai berkurang dan sangat jarang ditemui karena sebagian besar masyarakat Mandar saat ini sudah membangun rumah yang terbuat dari semen dan batu bata, bukan lagi rumah panggung yang dapat dipindahkan. Alasannya karena lebih baik, lebih mudah pembuatannya, serta daya kekuatannya yang tahan lama menjadikannya dasar mengapa rumah jenis ini semakin banyak dan mulai menggeser keberadaan rumah panggung.

Maka dapat terlihat secara jelas bahwa seiring waktu tradisi ini akan semakin sulit untuk kita temukan lagi di wilayah Mandar. Dengan makin berkurangnya rumah panggung yang dibangun lalu jika kemudian tak ada rumah panggung atau sedikit jenis rumah ini yang dibangun maka akan semkin sedikit pula kemungkinan aktivitas memindahkan rumah “maakeq boyang” dilakukan. Oleh karena itu tradisi ini patut harus bisa kita nikmati selagi masih ada rumah panggung yang dibangun. (Fariz)

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: