Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Keunikan dan Sejarah Musik Gejog Lesung

admin Friday, 27 Jan 2017 | 13:54 WIB 0 186 Views


PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – ”Tek, tok, tek, dug, tek, tok, tek, dug, teng, tug , dug” bunyi suara lesung yang ditumbuk oleh beberapa orang saling bergantian. Lesung yang biasanya digunakan para petani di pedesaan untuk menumbuk padi ternyata bisa juga digunakan sebagai musik dan hiburan para petani ketika selesai menumbuk padi di lesung, mereka kemudian bernyanyi dengan iringan ketukan alu (penumbuk padi) ke lesung kosong. Musik ini identik dengan masyarakat petani atau pedesaan yang memang mata pencahariannya adalah petani.

Musik sederhana yang dihaslikan dari alu dan lesung ini ada beberapa penyebutan yaitu Kotekan lesung, Gejog lesung, Lesung jumengglung. Selain untuk sarana menghibur diri sendiri ketika selesai menumbuk padi di lesung, Gejog lesung juga merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Dri atau Dewi Padi atas melimpahnya panen padi. Adapula yang memanfaatkan musik sederhana ini sebagai musik prewedding di setiap keluarga petani di pedesaan. Karena alunan lesung biasanya akan terus berkumandang beberapa hari menjelang pesta hajatan pernikahan di sebuah keluarga di pedesaan.

Setidaknya ada dua hal terkait alunan musik yang dihasilkan oleh lesung. Pertama, legenda Gerhana Bulan yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin makan Bulan. Ketika Nini Thowong yang menjaga Bulan sedang tertidur, Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan terbebas kembali. 

Kedua, musik dari lesung ini berjasa menyelamatkan Roro Joggrang dari hasrat Bandung Bondowoso yang akan meminangnya sebagai istri. Yaitu ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur. Maka langit terlihat seperti telah pagi hari, ayam-ayam jantan berkokok akibat alunan suara tumbukan padi dan cahaya merah hasil pembakaran jerami. Dengan peristiwa ini maka usaha Bandung Bondowoso gagal untuk memperistri Rara Joggrang.

Sebagai ciri khas dari hiburan masyarakat agraris, sekarang gejog lesung sudah sangat jarang ditemui dan biasanya hanya muncul di beberapa pesta adat atau uapacara HUT Kemerdekaan Indonesia di beberapa daerah. Hal ini terjadi karena adanya teknologi pertanian sehingga hilangnya tradisi menumbuk padi yang menggunakan alu dan lesung dari kehidupan masyarakat pedesaan. Apalgi para anak muda tidak ada yang mau menekuni kesenian ini karena dianggap tidak modern. Padahal, kesenian ini semestinya dijaga oleh generasi muda. Karena melestarikan sebuah seni itu sama saja mengabdi atau berusaha mengangkat budaya ataupun seni yang ada sebelumnya. Dengan begitu apa yang menjadi dimiliki kita tetap ada dan tidak diakui oleh siapa pun. (Fariz)

Foto: Kidnesia

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: