Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Festival Sketsa Indonesia: Sketsaforia Urban

Muhamad Fariz Saturday, 21 Sep 2019 | 18:35 WIB 0 48 Views
Radio Online Indonesia

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Festival Sketsa Indonesia “SKETSAFORIA URBAN”, pada 12 September – 12 Oktober 2019. Festival ini diinisiasi dan juga diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia serta didukung oleh Museum Seni Rupa dan Keramik–UP Museum Seni, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, KamiSketsa GalNas, Indonesia’s Sketchers, Urban Sketchers Indonesia, Bogor Sketchers, Sketchwalker, Sketchaholic, Sketch or Wasted, Deskovsketchers, Semarang Sketchwalk, Roedi Art Space, Dewan Kesenian Bekasi, Asosiasi Olah Raga Sketsa Indonesia (AORSI), dan Sketching Chángchūn for All.

Galeri Nasional Indonesia juga pernah menggelar kegiatan yang sama, yaitu Pameran Hasil Workshop KamiSketsa GalNas pada 14–21 Desember 2017. Pameran tersebut menampilkan karya-karya sketsa yang dibuat oleh para peserta Workshop KamiSketsa GalNas, sebuah program edukasi Galeri Nasional Indonesia khususnya di bidang sketsa. Pada tahun berikutnya, Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan Pameran Sketsa “[Re]Kreasi Garis” pada 4-16 September 2018. Pameran ini menampilkan karya-karya sketsa hasil seleksi undangan terbuka (open call) yang diikuti oleh para sketchers se­–Indonesia, juga karya-karya para seniman yang diundang secara khusus.

Selanjutnya, kegiatan serupa digelar kembali pada 12 September – 12 Oktober 2019 dengan cakupan yang lebih luas, baik dalam hal konsep gagasan, keikutsertaan peserta, maupun jangkauan kewilayahan. Gelaran ini adalah Festival Sketsa Indonesia dengan tajuk “SKETSAFORIA URBAN”. Festival ini melibatkan dua lembaga budaya, 13 komunitas sketsa, dan sketchers yang berada di Indonesia dan mancanegara (Tiongkok). “SKETSAFORIA URBAN” dirayakan dalam kemeriahan kegiatan di sebelas kota, antara lain Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Pontianak, Makassar, Samarinda, Manado, Tiongkok, dengan Galeri Nasional Indonesia sebagai simpul perayaan. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi pameran, workshop, diskusi, sarasehan, tur, travel sketch, sketsa bersama, dan performance (battle sketch).

Khusus untuk pameran di Galeri Nasional Indonesia, ditampilkan 12 arsip dan 616 karya sketsa beragam medium dari 122 pembuat sketsa (sketchers), lembaga, dan komunitas penggerak sketsa terkini. Dari jumlah tersebut, 76 karya dan 76 sketchers di antaranya merupakan yang lolos seleksi aplikasi terbuka dari 411 karya, 256 calon peserta, dari 17 provinsi di Indonesia. Sedangkan 140 karya dan 34 sketchers di antaranya merupakan undangan yang dipilih berdasarkan pertimbangan kuratorial. 400 karya di antaranya dari dua lembaga dan sepuluh komunitas sketsa di Indonesia (daftar peserta terlampir). Selain pameran, disajikan serangkaian program publik yang mengundang partisipasi publik (daftar program terlampir).

Melalui festival ini, Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto berharap dapat terjalin komunikasi dan interaksi yang lebih dekat dan intens antara Galeri Nasional Indonesia sebagai lembaga budaya negara dengan lembaga budaya lainnya serta komunitas-komunitas sketsa, baik di Indonesia maupun mancanegara. Hal tersebut diharapkan mampu menciptakan kerja sama yang berkelanjutan dan memunculkan kegiatan serta aktivitas baru yang mendukung upaya untuk mewadahi dan mengedukasi masyarakat terutama generasi muda, serta mengembangkan dan memajukan sketsa Indonesia.

“Semoga festival ini dapat memberikan pengalaman estetik yang menyenangkan, memberikan inspirasi dan motivasi berkarya, serta mendorong kemajuan perkembangan sketsa di Indonesia. Juga diharapkan para sketchers dapat semakin mengukuhkan eksistensinya melalui festival ini, serta adanya alih generasi sehingga para generasi muda Indonesia dapat meneruskan keberlangsungan sketsa sebagai media berkarya serta pencatat peristiwa, termasuk penggambaran kondisi sosial, ekonomi, politik, dan bidang lainnya yang memuat representasi penanda zaman,” papar Pustanto. (Zulfah)

Berikan Komentar: