Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Dugderan, Tradisi Menyambut Ramadhan di Semarang

admin Sabtu, 4 Jun 2016 | 7:58 WIB 0 351 Views
Dugderan, Tradisi Menyambut Ramadhan di Semarang

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Ramadhan membawa berkah dan pesonanya sendiri yang membuat kita senantiasa tak sabar menantinya. Demikian pula dengan masyarakat Kota Semarang yang memiliki tradisi unik untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Tradisi ini dikenal dengan nama “Dugderan”. Event ini terdiri dari serangkaian acara yang dimulai sejak 1-2 minggu sebelum Ramadhan, namun acara puncaknya akan berlangsung satu hari sebelum puasa, tepatnya setelah Sholat Ashar.

Di masa lalu tradisi ini adalah sebagai kegiatan berkumpulnya para ulama yang menggelar halaqah atau kegiatan mengumumkan dimulainya 1 Ramadhan. Setelah itu dilanjutkan dengan pemukulan bedug dan meledakan mesiu dari meriam sebagai tanda dimulainya bulan puasa. Kemudian hasil musyawarah atau halaqah diserahkan kepada pejabat keresidenan, kalau sekarang seperti Gubernur dan Walikota.

Tradisi Dug Der-an terus bertahan ditengah derasnya arus budaya populer yang kian pekat mewarnai kehidupan masyarakat. Dugderan sendiri telah dilaksanakan sejak tahun 1881 oleh Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat. Ia menggagas kegiatan ini sebagai pertanda awal waktu puasa karena umat Islam pada saat itu belum memiliki keseragaman waktu untuk memulai Ramadhan. Bupati Aryo Purbaningrat akhirnya memiliki suatu kegiatan dalam bentuk tradisi guna menegahi terjadinya perbedaan dalam memulai jatuhnya awal puasa.

Ciri khas dari event ini adalah upacara yang dimulai dengan membunyikan bedug sebanyak 17 kali (Dug…dug…dug…) yang diikuti dengan suara dentuman meriam sebanyak 7 kali (Der…der…der…). Dari perpaduan bunyi-bunyi tersebut kemudian menjadikan tradisi ini dinamakan “Dugderan”.

Dugderan juga diisi dengan serangkaian kegiatan yang membuatnya seperti pesta rakyat seperti adanya karnaval, tarian dan perlombaan. Disamping bunyi bedug dan meriam, ada tradisi “Warak Ngendog” yang merupakan mainan besar (arak-arakan) sejenis binatang berkepala naga namun berbadan kambing yang terbuat dari kertas warna-warni dan kayu. Binatang itu juga disertai dengan telur rebus sebagai simbol sedang bertelur. Kenapa telur? Ternyata ada ceritanya. Saat Dugderan dilaksanakan untuk pertama kali, sedang terjadi krisis pangan. Telur dipilih karena merupakan makanan mewah di masa itu untuk memberikan harapan kemakmuran.

Ternyata ada makna edukatif dibalik sosok “Warak Ngendog” yang dijadikan ikon dalam tradisi ini. Yakni seseorang haruslah suci, bersih dan memantapkan ketaqwaan kepada Allah dalam menjalani puasa. Adanya “Warak Ngendog” juga sebagai bentuk penarik perhatian bagi anak-anak agar mengenal dan mulai belajar untuk berpuasa.

Sangat unik bukan, Dugderan menjadi satu event yang identik dengan Kota Semarang jelang Ramadhan. Untuk saat ini event tersebut menjadi salah satu daya tarik pariwisata yang menjadi bagian dari program Visit Jateng. Jadi gimana Anak Muda, sebelum Tarawih pertama kita lihat Dugderan dulu yuk? (Dhisa)

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: