Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Bukan Hanya Sebagai Peneduh, Ternyata Payung Menjadi Simbol Sosial Kerajaan Jawa

admin Monday, 5 Feb 2018 | 10:22 WIB 0 0 Views
Bukan Hanya Sebagai Peneduh, Ternyata Payung Menjadi Simbol Sosial Kerajaan Jawa

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Payung biasanya dikenal sebagai alat untuk melindungi diri dari cuaca panas maupun hujan. Bahkan ketika musim hujan, payung menjadi barang wajib yang harus ada di dalam tas. Tapi berbeda jika dalam konteks kebudayaan di Nusantara, payung bukan hanya sekedar peneduh atau penghindar hujan tetapi telah memiliki fungsi lebih.

Benda satu ini rupanya memiliki akar sejarah cukup panjang di tanah Jawa. Payung menempati posisi krusial pada masanya. benda ini dianggap sebagai simbol prestis yang menunjukkan dari kalangan bangsawan mana ia berasal. Di masyarakat tradisional Jawa, payung menjadi penentuan jabatan seseorang dalam struktur pemerintahan. Payung menjadi asesoris berbusana yang menunjukan status sosial seseorang. Lantaran identik dengan aksesoris para priyayi dan kebangsawanan, penggunaan payung pun hanya untuk orang-orang tertentu. Payung dianggap pula sebagai harta pusaka yang digunakan dalam berbagai acara upacara yang dilaksanakan oleh kraton. 

Dalam budaya kerajaan Jawa, payung dikenal sebagai ‘songsong’. Biasanya seorang raja memiliki tiga jenis songsong yaitu songsong gilap gubeng, songsong bawat, dan songsong agung. Pemegang songsong bawat dan songsong agung berhak ‘disembah’ tanpa batasan ruang dan waktu. Sementara songsong gilap biasanya dimiliki oleh para pangeran dan hanya berhak disembah sebanyak lima kali.

Dalam sebuah buku Upacara Labuhan Kesultanan Yogyakarta yang ditulis oleh Bambang Sularto mengatakan bahwa setiap keturunan raja memiliki songsong yang bentuknya sama, hanya cat dan streep-nya saja yang berbeda. Warna dasar seperti emas, putih, hijau, biru, merah tua dan hitam merupakan pembeda pangkat dalam lingkungan priayi. Warna emas dianggap sebagai warna paling tinggi sedangkan yang terendah adalah warna hitam.

Karena keistimewaannya itulah benda ini diperlakukan secara khusus seperti benda pusaka. Terbukti dengan adanya larangan bagi siapapun untuk menggunakan payung di area keraton, kecuali keluarga raja yang bergelar pangeran yang di perintahkan oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada masa Pakubuwono IV.

Bahkan untuk membawa benda ini pun biasanya terdapat seorang abdi dalem yang ditugaskan oleh tuannya. Tugas abdi dalem tersebut biasanya melindungi tuannya dari cuaca dan juga menemani dalam setiap pertemuan antar bangsawan.
Namun semua itu harus berubah ketika Indonesia memasuki zaman revolusi, kaum-kaum ningrat harus disejajarkan dan mensejajarkan diri dengan rakyat serta fungsi payung atau songsong sebagai benda istimewah ini pun perlahan menghilang. (Fariz)

Berikan Komentar: