Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Bang Pi’ie, Sang Jawara Senen yang Jadi Menteri dan Loyalis Soekarno

Muhamad Fariz Thursday, 18 Jul 2019 | 16:43 WIB 0 25 Views
Bang Pi’ie, Sang Jawara Senen yang Jadi Menteri dan Loyalis Soekarno

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Banyak jawara asal Betawi yang berjuang melawan penjajah, seperti si Pitung dan Sabeni. Ternyata, di luar nama itu ada juga jawara asal Senen, Jakarta Pusat, yang mungkin kurang dikenal di kalangan umum, yakni Kapten Syafi’ie atau Bang Pi’ie.

Bermula dari jalanan kisah Bang Pi’ie dimulai. Tepatnya ketika mendiang ayahnya, Mugeni, meninggal setelah dihabisi adik seperguruannya bernama Ayub, yang kala itu ingin menguasai daerah Senen. Akhirnya Syafei kecil pun kemudian dititipkan kepada seorang ulama tersohor dari Kebon Nanas, Jakarta Timur yang bernama Habib Qodir Al-Hadad. Dari Habib Qodir Al Hadad inilah Bang Pi’ie kecil banyak mendapatkan pelajaran, termasuk ilmu agama, juga ilmu bela diri. Yang kala itu sengaja dipersiapkan untuk membalas kematian mendiang ayahnya.

Hingga akhirnya, Syafei dititipkan pada bibinya bernama Zaenab, seorang pedagang di Pasar Senen. Dari sana, Bang Pi’ie mulai mengkoordinir anak-anak seusianya. Di usia belasan, Bang Pi’ie mengkoordinir anak-anak seumuran untuk mengumpulkan beras dan juga sayur-sayuran dari Pasar Senen. Tujuan Bang Pi’ie adalah memberi makan ibu dan kedua adiknya. Namun karena dianggap mencuri, Bang Pi’ie dijebloskan di LOG tahanan khusus anak-anak yang dibuat Belanda. Di dalam penjara, nama Bang Pi’ie juga tak kalah kesohor. Dia mengalahkan penguasa LOG dalam perkelahian. Selepas dari penjara, Bang Pi’ie pun kembali ke Pasar Senen.

Pada usia 16 tahun Bang Pi’ie memilih untuk berguru ilmu bela diri ke Kalimantan. Sepulangnya dari berguru, Bang Pi’ie kemudian kembali lagi ke Pasar Senen untuk mengalahkan jawara Pasar Senen bernama Muhayar, asal Cibedug, Bogor. Muhayar adalah anak murid dari Ayub, sosok yang menghabisi ayahnya. Karena mengalahkan Muhayar, Bang Pi’ie pun akhirnya bisa menguasai Pasar Senen.

Sebagai seorang pemuda yang hidup pada zaman revolusi, membuat Bang Pi’ie memiliki rasa benci terhadap Belanda dan karena alasan itulah dia memilih untuk ikut berjuang melawan penjajah dan karena perjuangannya dia masuk ke dalam catatan seorang pejuang kemerdekaan.

Namanya tercatat sebagai Ketua Organisasi Pejuang Indonesia (OPI). Organisasi ini mengkoordinir barisan pasukan rakyat berisi para pemuda dan pelajar. Tercatat OPI dibentuk setelah kedatangan Sekutu. Tentara Sekutu itu tiba di Jakarta pada September 1945 dipimpin oleh Sir Phillips Christison. Sebulan setelahnya, tentara NICA Belanda turun dengan membawa pasukan di Pelabuhan Tanjung Priok. Kala itu, NICA membawa pasukannya ke Jakarta dengan menggunakan 8 kapal.

Bang Pi’ie lah yang mengomandoi pemuda dan pelajar serta bekas Heiho dan polisi untuk membuat pasukan tempur mengusir musuh keluar dari Jakarta. Ketika tiba di Jakarta, bulan Oktober 1945, tentara sekutu dan NICA melakukan pembersihan besar-besaran di wilayah Senen. Pertempuran itu pun akhirnya dimenangkan Bang Pi’ie yang kala itu sedang sakit dan pasukannya hanya bermodalkan beberapa pucuk senjata. 

Perjuangan Bang Pi’ie pun terus berlanjut, menjelang akhir 1945, situasi perlawanan pemuda terus bergejolak terhadap tentara sekutu dan Belanda yang pada saat itu hendak menguasi ibu kota. Pada 22 November 1945, Bang Pi’ie ditunjuk sebagai komandan pertempuran seluruh Jakarta. Sejak saat itu, Bang Pi’ie menjadi komandan tempur yang disegani musuh. Dia menjadi pertimbangan dan orang paling diperhitungkan oleh tentara Sekutu dan NICA.

Pada akhirnya Bang Pi’ie tercatat pernah menduduki posisi penting sebagai Menteri Urusan Keamanan Rakyat ketika Presiden Sukarno berkuasa. Posisi itu diberikan oleh mendiang Sukarno karena Bang Pi’ie dianggap bisa mengendalikan para bandit yang kala itu membuat Jakarta menjadi rawan kejahatan.

Jabatan sebagai Menteri Urusan Keamanan Rakyat dia emban dari 24 Februari hingga 28 Maret 1966. Sayang ketika Sukarno tumbang, Bang Pi’ie pun terkena imbasnya, ia dituduh terlibat komunis hingga dia ditahan pada 18 Maret 1966. Tak lama dijebloskan ke dalam penjara, Bang Pi’ie pun dibebaskan.

Pada tanggal 9 September 1982, Bang Pi’ie pun tutup usia. Dia meninggal di kediamannya di Jalan Wijaya 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum dimakamkan, iring-iringan jenazah Bang Pi’ie sempat dibawa mengitari daerah Senen hingga Kemayoran, sebelum akhirnya disemayamkan di Gedung Dewan Harian Daerah 45 Jakarta.

Kini jasad Bang Pi’ie disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Di nisannya tertulis, Letkol Imam Sjafeei. Dia terdaftar sebagai Angkatan Darat dengan Nomor Registrasi Pegawai Mabes AD 14157. (Fariz)

Berikan Komentar: