Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Kolak: Makanan Berbuka Puasa dan Media Penyebar Agama Islam

admin Friday, 10 Jun 2016 | 21:29 WIB 0 498 Views
Kolak: Makanan Berbuka Puasa dan Media Penyebar Agama Islam

PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda –  Di bulan ramadhan saat ini para anak muda pasti akrab dengan makanan satu ini, yang biasanya dijadikan makanan pembuka atau takjil oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Alasan dijadikannya kolak sebagai takjil karena sajian ini memang enak. Kolak pada dasarnya bercita rasa gurih dan manis karena terbuat dari kuah santan dengan tambahan gula. Kandungan gulanya ini lah yang membuat makanan ini cocok disantap pada saat berbuka karena dapat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Selain itu, kolak bisa diolah dalam berbagai variasi sehingga tidak membosankan. Selain itu juga, ada cerita menarik yang membuat kolak kerap identik dengan bulan Ramadan.

Nama Kolak sebenarnya berasal dari kata Khalik, yang berarti sang pencipta alam semesta, yaitu Allah SWT. Melalui nama ini, para ulama yang menyebarkan Islam di nusantara ingin mengajak masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada awal penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, para ulama biasanya menggunakan cara yang sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat setempat karena Pada masa itu, masyarakat Jawa belum mengenal Islam dengan baik. Sehingga Kolak sebagai makanan yang memiliki citarasa manis kerap digunakan sebagai media untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kolak seperti pisang dan ubi, ternyata juga menyimpan makna dan memiliki pengaruh dalam penyebaran Islam kala itu. Bahan pertama untuk isian kolak adalah pisang kepok. Kata ”kepok” merujuk pada istilah ”kapok”. Dengan istilah ini harapannya masyarakat harus kapok atau jera untuk berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT.

Sedangkan ubi yang oleh masyarakat Jawa Tengah disebut ‘ketelo pendem’ atau ”ketela yang terpendam.” Itu memiliki makna setiap individu harus mengubur kesalahan yang pernah diperbuat dalam hidupnya sehingga bisa melanjutkan hidup di jalan yang diridhai Allah SWT.

Sebenarnya pada masa lalu, kolak selalu disajikan mulai dari bulan Sya’ban atau satu bulan sebelum memasuki Ramadan. Di bulan sya’ban ini umat Islam diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan menjelang bulan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan. Namun kemudian kebisaan mengonsumsi kolak tersebut berlanjut hingga memasuki bulan puasa dan dijadikan sebagai menu takjil yang populer hingga saat ini.

Mengonsumsi kolak saat berbuka ternyata bukan hanya tradisi orang Jawa. Masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia, bahkan beberapa negara di Asia Tenggara, juga melakukan hal yang sama. Di Padang, misalnya, ada bubur kampiun yang juga mirip kolak. Di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura juga menemukan makanan sejenis kolak. Bedanya disana tidak memakai gula aren melainkan memakain gula malaka.

Selain menggunakan pisang dan ubi, sekarang ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui di berbagai tempat. Mulai dari gabungan penggunaan pacar cina, tapai singkong dan kolang kaling, hingga ubi yang diolah menjadi biji salak kemudian dihidangkan dengan campuran kuah santan. (Fariz)

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: