Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Kawa Daun, Kopi Khas Orang Minang dan Perjuangan Melawan Kolonialisme

admin Monday, 2 Oct 2017 | 11:34 WIB 0 138 Views
Kawa Daun, Kopi Khas Orang Minang dan Perjuangan Melawan Kolonialisme

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia menyimpan banyak kekyaan tentang kopinya dimulai dari beragamnya biji kopi dan Teknik penyeduhannya yang modern ataupun tradisional. Misalnya di Sumatera Barat, Anak Muda bisa menemukan kopi unik yang berbeda dari yang lain. Kopi tradisional ini tidak menggunakan biji kopi untuk menghasilkan kopi yang nikmat tetapi menggunakan daun kopi. Yap minuman tradisonal ini mempunyai nama Kawa Daun.

Kawa memiliki artian kopi yang diambil dari bahasa arab yaitu qahwah. Daun sendiri dari bahasa Indonesia. Jadi kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Seperti teh yang diseduh dengan air panas, dan bukan dari bijinya. Cara menikmatinya juga terbilang unik dan sangat klasik, yaitu memakai tempurung alias batok kelapa yang dibelah dua. Sebagai tatakan digunakan potongan bambu.

siapa sangka kalau minuman ini memiliki sejarah yang panjang. Minuman ini lahir dari penindasan kolonialisme belanda terhadap warga pribumi di Sumatera pada masa itu. Kejamnya kebijakan kolonialisme belanda membuat warga pribumi tidak mendpatkan kesempatan untuk menikmati minuman hasil seduhan biji kopi. Mereka hanya boleh menaman tapi tidak bisa untuk mencicipinya. Kopi pada saat itu adalah minuman para dewa yang tak terjangkau tangan.

Tapi ibarat tak kayu janjang dikapiang, tak ameh bungka diasah membuat mereka tidak pantang menyerah dan mengakalinya dengan menyeduh daun kopi demi dapat mencicipi rasa kopi yang harum ini. Walaupun rasa daun kopi tidak sama dengan rasa biji kopi, setidaknya ada bau bau harum kopinya juga. Semua penderitaan ini akhirnya berakhir pada tahun 1908 ketika kebijakan tanam paksa diganti dengan penerapan pajak. Namun tradisi minum Kawa Daun tidak ikut berhenti dan berlangsung hingga sekarang.

Kawa Daun membuktikan bahwa keterbatasan dan kebijakan yang tidak berpihak bisa mengasilkan suatu kenikmatan. Kawa Daun juga sebagai bukti perlawanan dari ketidakadilan kolonialisme belanda terhadap warga pribumi di Sumatera. Maka kita sebagai Anak Muda patutnya bisa lebih menghargai perjuangan mereka.Dan jangan lupa untuk kalian yang merencanakan liburan atau berkunjung ke Sumatera Barat harus mencoba kopi Kawa Daun. (Fariz)

Foto: Takaitu.com

Berikan Komentar: