Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

5 Makanan Alternatif di Zaman Penjajahan

Muhamad Fariz Friday, 19 Jul 2019 | 18:31 WIB 0 76 Views
5 Makanan Alternatif di Zaman Penjajahan

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Perjuangan meraih kemerdekaan yang dirasakan masyarakat Indonesia di zaman peperangan sangat berat. Tak hanya keringat dan air mata, bahkan para pejuang sampai berkorban nyawa.

Masa-masa yang berat juga berdampak pada makanan yang dikonsumsi masyarakat. Para penduduk harus bertahan hidup ditengah minimnya suplai makanan, termasuk para pejuang kemerdekaan yang sedang berperang, karena semua hasil bumi bercocok tanam dieksploitasi penjajah sehingga mengharuskan mereka cari bahan pangan alternatif atau mengonsumsi sejumlah bahan makanan yang sangat sederhana, mengingat nasi sangat susah didapatkan waktu itu. Meskipun sederhana, beberapa makanan ini merupakan sumber energi yang baik untuk dikonsumsi sehingga kerap dijadikan bekal perang.

Berikut ini lah beberapa makanan dari zaman penjajahan:

1. Sate Kere

Sate Kere, seperti namanya ‘kere’ yang berarti miskin, merupakan makanan yang pada zaman penjajahan yang terbuat dari sisah makanan yang diolah dengan bumbu kacang, misalnya usus, jeroan dan tempe gembus yang disatukan.

Hal ini terjadi karena di zaman penjajahan, hanya orang Belanda saja yang makan daging, sedangkan jeroannya diberikan ke orang Indonesia.

2. Janeng

Menurut sejarahnya, janeng merupakan makanan yang dijadikan bekal perjalanan dan saat perang melawan penjajah.

Janeng merupakan sejenis umbi yang biasa tumbuh di daerah hutan Aceh. Pada masa penjajahan, boh janeng atau buah janeng juga dijadikan makanan pengganti beras.

Meskipun buah ini beracun karena bisa menyebabkan gatal tetapi di Aceh buah ini disulap menjadi makanan yang tidak kalah nikmat yang bernama Krabe Janeng. Krabe Janeng ini pada masa perang merupakan makanan pengganti nasi saat para pejuang berada di dalam hutan.

3. Keumamah

Keumamah merupakan olahan ikan laut khususnya ikan tongkol. ikan tongkol ini direbus kemudia dibelah, lalu dibuang bagian kepala da tulang-tulangnya. Setelah itu dikeringkan hingga mengeras dan kadar airnya berkurang. ikan tongkol yang sudah keras ini kemudia disebut ikan kayu karena bentuk dan teksturnya yang seperti kayu.

Keumamah dipilih menjadi sumber logistik rakyat Aceh yang berjuang pada masa penjajahan dahulu karena para pejuang yang bergerilya di hutan-hutan membutuhkan makanan yang tahan lama tapi tetap bernutrisi untuk menjaga dayan tahan tubuh

4. Nasi Uduk

Nasi uduk diambil dari kata ‘uduk’ dalam bahasa Sunda yang memiliki arti bersatu atau bercampur, tapi sebagian orang juga mengartikan ‘uduk’ ini sebagai kata susah. Mengingat zaman dulu nasi uduk dijual oleh pedagang makanan gerobak yang hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional dan diperjual belikan untuk kalangan menengah ke bawah, sehingga banyak rakyat kecil yang cenderung mengonsumsi makanan apa adanya.

5. Tiwul

Tiwul menjadi makanan pokok sebagaian besar rakyat Jawa pada masa penjajahan sebagai pengganti nasi. Pada saat itu bahan makanan yang layak seperti nasi beras sangat sulit didapatkan dan tidak mampu dibeli oleh masyarakat sehingga pada akhirnya rakyat mencari bahan makanan lain pengganti nasi.

Karena hasil kebun yang paling mudah ditanam dan dipanen tanpa membutuhkan perawatan khusus adalah singkong, maka muncullah berbagai olahan makanan berbahan dasar singkon, termasuk Tiwul. Selain murah dan mudah didapatkan singkong juga bisa disimpan dalam waktu yang sangat lama dan juga mengenyangkan. Mengingat kandungan karbohidratnya yang tinggi, tiwul sering dijadikan pasokan energi bagi para pejuang atau masyarakat yang direkrut kerja paksa. (Fariz)

Berikan Komentar: