Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’: Merayakan Cinta, Membangkitkan Kesadaran Berbangsa

admin Tuesday, 24 Dec 2013 | 15:02 WIB 0 781 Views
‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’: Merayakan Cinta, Membangkitkan Kesadaran Berbangsa

Jakarta – Tuan Sunil Soraya,

Telah saya saksikan film tuan yang diangkat berdasarkan karangan berjudul sama karya Tuan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau orang-orang menyebutnya sebagai Buya HAMKA yang mahsyur itu. Telah banyak orang yang membaca novel itu, termasuk saya, dan dapatlah saya katakan bahwa apa yang saya imajinasikan sewaktu membaca novel itu, kalah liar nan elok oleh imajinasi tuan! Tuan berlebih-lebih dalam menggubah karya HAMKA itu, dan saya pun terpikat.

Saya harus mengucap salam dan penghormatan yang tinggi untuk Tuan Herjunot Ali yang berperan sebagai Zainuddin, karena ia pandai sekali bermain lakon. Tak pernah saya saksikan ia bermain begitu lepas dan penuh penghayatan seperti itu sebelumnya. Penampilannya yang berdialog panjang menjelang akhir durasi film sungguhlah menohok. Ia sinis, kejam, namun juga lemah tak berdaya di hadapan Hayati, dan Tuan Herjunot Ali sungguh-sungguh menunjukkan itu. Encik Pevita Pearce, amboi Tuan, amboi, pesona Hayati memanglah miliknya, dan saya melihat itu terpancar dari binar matanya yang indah bak bintang timur itu. Dan, tatkala ia tersenyum, oh tuan, saya mafhum benar mengapa Zainuddin tergila-gila dan jatuh hati padanya. Tuan Reza Rahadian berlakon sebagai Azis sama dahsyatnya, malah ia nampak tak berusaha keras namun kehadirannya begitu mengintimidasi.

Oh, ya ada seorang lagi yang berlakon rancak, dan saya terkejut bahwa seorang Randy ‘Nidji’ yang seniman musik itu rupanya pandai pula bersandiwara jadi Bang Muluk, sahabat Zainuddin sampai mati yang menggemaskan itu.

Bila ada yang saya sesali dari film tuan, ialah colour grading yang tuan pilih dan juga terlalu banyak lagu tema yang diperdengarkan selama pertunjukan, alih-alih musik latar saja yang saya kira dapat lebih menyatu dengan semangat dan jiwa film yang tuan ciptakan. Tak kurang, tak lebih.

Yang paling saya hargai dari cara tuan mencipta film ini adalah tuan membawa semangat kesusasteraan Indonesia tempo dulu. Saya bisa merasakan semangat pengarang-pengarang dari angkatan pujangga baru meluap-luap, menebar rasa lewat gambaran yang tuan tuangkan dalam pengadeganan dan bingkai cerita. Pun saya tundukkan rasa hormat ‘tuk Tuan Yudi Datau yang bekerja bersama tuan; ia menangkap gambar-gambar yang tak hanya sedap dipandang mata, namun menghidupi cerita jua yang menggetarkan hati ini. Pandailah Tuan Yudi Datau dan khatam pula tugasnya di balik kamera secara memuaskan hati.

Patutlah dicatat bahwa cerita yang aslinya ditulis oleh Tuan HAMKA yang tuan filmkan ini adalah satu bentuk perjuangan demi menyatukan Tanah Air kita tercinta. Para pengarang, penyair, penulis hikayat ini tak ubahnya para prajurit yang berjuang dengan senjata-senjata pencabut maut di medan perang. Para pengarang ini sama besarnya dengan para pemikir bangsa seperti Sukarno dan pasangannya Hatta, juga Sjahrir, Amir Sjarifuddin, Tan Malaka dan lain-lainnya. Ya tuan, saya berani berkata begitu tentu didasari sejumlah alasan.

Tuan HAMKA, Tuan Sutan Takdir Alisyahbana, Tuan Armijn Pane beserta kawan-kawan lainnya muncul dengan karya-karya tulis mereka sebagai perlawanan atas sensor yang kerap dilakukan oleh penerbit Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan masa itu, terutama terhadap karya tulis yang membangkitkan rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sejatinya kisah Zainuddin dan Hayati ini tak jauh berbeda dengan kisah Siti Nurbaya dan Samsulbahri dalam hikayat ‘Kasih Tak Sampai’ karangan Marah Rusli yang juga diterbitkan oleh Balai Pustaka –tentu dengan banyak nuansa lain di sana-sini. Zainuddin adalah Siti Nurbaya yang ditinggal mati oleh ibunya sedari kecil, dan Azis adalah Datuk Maringgih yang mempersunting Siti Nurbaya atas pilihan orangtua dengan pertimbangan harta kekayaan.

Seperti Tuan Marah Rusli, Tuan HAMKA mempersoalkan kungkungan adat yang dijunjung maha tinggi dan sering menghalangi pasangan insan yang jatuh hati. Namun, selain memprotes persoalan adat, Tuan HAMKA tak lupa mengejek inlander dan cecunguk-cecunguknya. Lewat tokoh Azis dan kawan-kawannya ia berkritik pemerintah kolonial, satu hal yang membuat dirinya dan kawan-kawan seangkatan Pujangga Baru disebut-sebut sebagai sastrawan intelektual serta nasionalis.

Betapa tidak? Lewat karya-karya tulis mereka, atau ambillah contoh kisah Zainuddin ini, yang tak dapat mempersunting Hayati hanya karena ia dianggap bukan seorang Minang. Celaka. Bangsa yang mengaku satu Tanah Air ini rupanya masih suka mengagungkan sukunya sendiri, dan menganggap remeh suku lain, atau bahkan memandang sebelah mata pun tiada sudi.

Kisah-kisah ini ditulis jauh sebelum Zaman Merdeka, dan rupanya hanya sedikit saja yang tertarik membacanya. Maka, lewat film tuan yang berhasil menarik atensi ratusan ribu penonton ini, dan semoga masih ada ratusan ribu penonton lainnya yang hendak menonton pula, saya harapkan mereka jadi tertarik membaca karya-karya sastra kini dan zaman dulu. Biarlah harapan saya dibilang terlalu muluk, tapi syukur-syukur kalau bisa terwujud.

Di zaman kini, saat lelaki dan perempuan dapat menikah sesama jenis di negara Barat sana, di negeri Timur yang kita pijak ini bahkan masih banyak orang Sunda yang kesulitan setengah mati ketika hendak mempersunting orang Batak. Di mana rasa satu Tanah air, satu nusa, satu bangsa?

Rasa-rasanya cuma satu pengharapan yang penghabisan, untuk memperkuat rasa kesatuan bangsa, kita lebih perlu membaca lebih banyak karya sastra di samping buku-buku sejarah yang bercerita soal perang saja. Saya pun berkhidmat kepada tuan dengan segenap daya dan upaya, karena mimpi yang saya rekatkan sekian lamanya akan kisah yang menggetarkan hati ini bisa makbul, lewat film yang tuan buatkan. Saya pun senang.

Dan, biar berbilang tahun, biar berganti musim, film tuan ini ialah kesenangan yang tak lekang dirundung panas, tak lapuk diterpa hujan.Sambutlah salam dari saya,

Shandy Gasella pemerhati perfilman Indonesia; detik.com

Berikan Komentar: