Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Rangkuman Keseruan Hodgepodge Superfest 2019

Muhamad Fariz Sunday, 8 Sep 2019 | 21:18 WIB 0 108 Views
Rangkuman Keseruan Hodgepodge Superfest 2019

PEMUDAFM, Radio Online Indonesia – Ancol memang menjadi salah satu lokasi favorit berwisata semua kalangan masyarakat. Namun, alasan saya pergi ke daerah pantai ibu kota yang sebentar lagi akan kehilangan statusnya sebagai “Daerah Khusus Ibukota” bukan untuk sekedar main air, melainkan demi mengunjungi Hodgepodge Superfest 2019, Ini kali kedua saya menghadiri festival musik multigenre besutan Supermusic & Java Festival Production tersebut setelah perhelatan perdananya tahun lalu dan pengalaman yang mereka berikan cukup menyenangkan. 

Masih memilih lokasi yang sama; Allianz Ecopark Ancol, hari pertama perhelatan (31/08) saya datang kira kira pukul 5 sore, sedikit kecewa karena melewatkan Dried Cassava yang sudah bermain pukul 3 sore,lalu dilanjutkan oleh Coldiac pada panggung yang sama, “Sial sekali” pikir saya waktu itu. Saya memutuskan untuk mengitari Ecopark, tak lama salah satu usher menghampiri bermaksud untuk menawarkan saya agar mengunjungi boothnya. Saya tertarik mengunjungi salah satu booth milik Supermusic yakni Ultragraffiolet space. Ternyata isinya adalah instalasi seni hasil dari kolaborasi antara seniman mural Indonesia yang mendunia @darbotz dan @nevertolavish nama yang mencuri perhatian setelah karyanya pada jaket denim yang digunakan Presiden RI Joko Widodo saat turing dengan sepeda motor di Sukabumi.

Tidak mau ketinggalan The Japanese House-Line Up Internasional pertama yang malam itu dijadwalkan pukul 7 lewat 15, saya bergegas meninggalkan instalasi seni tersebut menuju BNI Stage. Saya mencari spot paling depan agar bisa melihat wajah mba Amber Bain, vokalis The Japanese House dengan jelas. Kebetulan dipanggung sebelah terdengar alunan lagu “Never Leave Ya”, ternyata Gamaliel Audrey Cantika sedang mengisi Supermusic Stage. Penampilan mereka di Hodgepodge Superfest 2019 adalah panggung terakhir mereka sebagai trio GAC. Saya mulai gelisah, berulang kali saya melihat ke arah jam tangan saya. Seharusnya The Japanese House sudah tampil sejak jam 19:15, sepertinya ada kesalahan teknis yang saya tidak tahu apa penyebabnya. Beberapa menit saya menunggu, kaki saya sudah mulai keram berdiri sambil menatap monopod bertuliskan “checksound”. Akhirnya monopod tersebut disingkirkan dari sana, tanda penampilan akan segera dimulai. “Selamat malam, good evening!” sapa mba Amber Bain kepada para penonton. Lagu pertama yang dibawakan adalah “Face Like Thunder” dan dilanjutkan dengan “Cool Blue”.  Penyanyi solo indie pop asal inggris tersebut meminta para penonton untuk bernyanyi bersama ketika  menyanyikan lagu “Lilo”, . “Saw You in a Dream” lagu yang ditunggu-tunggu dibawakan dengan apik. Penampilan The Japanese House ditutup dengan single barunya yang berjudul “Maybe You’re the Reason” lalu diakhiri dengan “Worms”.  Ah, akhirnya jari kelingking kaki saya yang bengkak terhimpit sepatu akibat terlalu lama berdiri sedikit terobati melihat penampilan mereka.

Puas dengan penampilan The Japanese House, saya menuju indoor stage; Wonderful Indonesia untuk mengisi daya batre ponsel milik saya yang hampir habis. Pada panggung tersebut Adrian khalif terlihat tampil bersama kolaboratornya Ben Sihombing serta Cantika dari GAC. Sadar waktu sudah pukul 21:30, saya menuju panggung BNI Stage melihat penampilan Phony PPL grup musik dari Brooklyn, New York. Para penonton sudah memadati  BNI Stage, kelihatan antusias sekali mereka. Jelas saja, Phony PPL memberikan energi positif kepada penonton lewat lagu  “Something About Your Love” yang dibawakan dengan energik. SOMEHOW! SOMEHOW!, terdengar teriakan dari kerumunan penonton, sayangnya lagu “Somehow” tidak dibawakan Phony PPL malam itu, Saya lupa kapan terakhir melihat penampilan musisi yang saya sendiri kurang familiar dengan lagu-lagunya, tapi kali itu saya sangat menikmatinya. 

Saya mengikhlaskan penampilan “The Used” karena harus segera pulang, hal tersebut sepertinya sangat saya sesali setiap hari sampai “The Used” datang lagi ke Indonesia, sesuatu yang menambah penyesalan saya adalah karena mereka membawakan lagu “Wonderwall” milik “Oasis”, grup musik asal Inggris yang sudah bubar dan personilnya kakak beradik tapi masih asik dengan drama perselisihannya itu. 

Hajatan hari kedua (01/09) harusnya lebih seru lagi, apalagi ada nama sekaliber “State Champs” hingga “Prophet Of Rage” yang tampil pada malam puncak festival itu. Saya datang jauh lebih awal kali ini dengan tujuan melihat spot-spot foto disetiap sudut Ecopark yang belum sempat saya kunjungi kemarin. Ya, sesuai dengan tema “Music Art and Technology” Mulai dari pintu masuk lokasi acara, spot-spot foto, hingga jalan menuju panggung-panggung acara disuguhkan dengan instalasi-instalasi seni nan artsy. Hari kedua terlihat banyak dikunjungi penonton mancanegara dibanding sehari sebelumnya.  M.A.T.S. grup musik asal Palembang membuka hajatan hari kedua di panggung Wonderful Indonesia, kabarnya mereka adalah jawara Super Rockin’ Battle lewat karakter elektro rocknya. 

Saya penasaran dengan salah satu nama yang mengisi panggung Kapal Api stage sore itu, Ariel Nayaka nama yang familiar bagi mereka yang mengikuti skena hip-hop lokal. Menarik, kebetulan saya belum pernah melihat penampilannya. Untuk awam seperti saya, agak heran mendengar pelafalan bahasa inggris dan rap flownya yang tidak main-main. Kemudian Laze yang juga salah satu punggawa hip hop tanah air muncul, mereka berdua saling umpan rima, disela-sela penampilan sambil melempar seyuman Ariel memberi tahu penonton kalau dia belum pernah nge-rap menggunakan bahasa Indonesia

Hari kedua, Line up internasional yang tampil pertama adalah “Superorganism”. Mereka menjadi perhatian saya karena materi lagu hingga video musiknya yang unik, asal usulnya pun misterius, Kelompok elektro pop ini berbasis di London, berisikan 8 orang dari berbagai wilayah yang kabarnya terbentuk lewat forum online, panggung tampak gelap. Satu per satu personel naik ke atas panggung. Mereka mengenakan jubah ala sekte namun dengan hiasan kerlap-kerlip berwarna warni yang membuat mereka tampak unik. Orono sang vokalis tampil mengenakan kacamata hitam sembari memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Lagu-lagu yang selama ini saya lihat secara online malam itu dibawakan mereka dengan penampilan yang memuaskan. Mereka sangat total dalam urusan sound dan visual pada setiap lagu-lagunya, Orono juga mengungumkan jika mereka akan vakum untuk sementara waktu dan panggung Hodgepodge Superfest 2019 lalu adalah panggung terakhir untuk rangkaian tur mereka. Malam itu mereka menbawakan lagu Congratulations milik Post Malone/MGMT seperti pertunjukan mereka di salah satu stasiun radio Australia, Triple J, Like A Version.  “Ini terasa aneh, Saya tidak sedih, tapi kami akan membawakan lagu yang gembira,” ucap Orono. ORONO!, teriak nyaring sala satu penonton, lagu ‘Everybody Wants to Be Famous’ dimainkan, penonton pun nyanyi bersama. “Meskipun kami tidak manggung, kami tetap harus beli makan. dengarkanlah lagu kami di layanan streaming, jadi kami masih bisa makan.” Lagu “Something For Your M.I.N.D.” menutup penampilan mereka malam itu di Jakarta.

Urusan saya selesai dengan “Superorganism”. Masalah yang lebih serius adalah soal perut, sebelum menyaksikan proyekan “Tom Morello” yang tampil pada pukul 22:15 malam itu,  saya mencari makanan agar tidak roboh saat “Killing in the name” dimainkan. Sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong cashless society, pembelian makanan & minuman di Hodgepodge Superfest menggunakan transaksi non tunai.

Konsentrasi penonton mulai terpusat di panggung Supermusic stage. Lagu kebangsaan Indonesia raya berkumandang sebelum pertunjukan dimulai. Semua penonton berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suara sirine menandakan penampilan sudah dimulai lewat lagu “Prophet of Rage” Chuck D pentolan dari grup hip-hop Public Enemy menyapa penonton seraya berkata “Indonesia Rage Again”. Raungan gitar Tom Morello lewat lagu “Guerilla Radio” hingga “Take the power back” menyihir para penonton menjalankan ibadah pogo. Sesi hip-hop Prophet of Rage malam itu di mulai ketika B-Real yang juga punggawa grup hip-hop Cypress Hill mengatakan “Let me ask you something, do you like hip hop music? Would you like to hear some classic hip hop music? Yo Lord, drop it off. Seketika mereka membawakan lagu “Hand on the Pump” milik Cypress Hill, “Can’t Trust it” milik Public Enemy, “Insane in the Brain” milik Cypress Hill lalu Chuck D meminta penonton untuk jongkok seolah mengambil ancang-ancang sebelum loncat ketika mereka membawakan lagu “Jump Around” milik House of Pain. Pertunjukan dilanjutkan dengan lagu milik Rage Against the Machine yaitu “Sleep Now in the Fire”. 

Hal yang menarik adalah saat tirai dicopot, lalu pada layar terpampang tulisan putih berlatar merah berbunyi “Jakarta Rage Again”.  Pertunjukan Prophets of Rage di Hodgepodge Superfest 2019 ditutup dengan lagu “Bombtrack”. Saat para personil sudah turun panggung, para penonton telah membubarkan diri, terdengar audio lagu “Black Hole Sun”.

Hodgespodge Superfest 2019 kembali memberikan pengalaman yang berkesan, semoga Festival tahunan ini semakin menarik dalam pengemasan suguhan musik serta konsepnya pada penyelenggaraan tahun depan.  Saya pun pulang menggunakan taksi online dan berusaha menahan kantuk demi meladeni curhatan sang driver mengenai kesejahteraan driver serta persoalan pajak. (Frigi)

Berikan Komentar: