Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Mengintip “Keganasan” Tsunami di Tanah Rencong, Aceh

admin Senin, 10 Apr 2017 | 12:16 WIB 4 95 Views


PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Gelombang besar menggulung, luluh lantahkan daratan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Mungkin, gempa dan disusul tsunami ketika itu menjadi bencana alam terbesar di abad 21 yang melanda Indonesia. Bangunan yang kokoh rata dengan tanah, kecuali beberapa masjid di beberapa wilayah yang diterjang tsunami.

Ratusan ribu nyawa melayang. Sejumlah kota-kota besar di Serambi Mekkah itu rusak parah. Tak terkecuali Banda Aceh, ibu kota Nangro Aceh Darusalam. Saat bencana itu terjadi GAM belum benar-benar damai dengan Indonesia. Karena ada musibah yang luar biasa itu, hubungan keduanya membaik.

Tak ada yang menyangka, gelombang besar yang terpicu oleh gempa berkekuatan di atas 8 skala Richter mampu meratakan bangunan yang di lewatinya. Sampai-sampai beberapa kapal terseret hingga beberapa rates meter dari garis pantai. Yang mencengangkan PLTD Apung juga ikut terseret dan menetap di darat hingga kini.

Rabu 1 Maret 2017, saya berkesempatan melihat gambaran bagaimana ganasnya tsunami menghampiri Tanah Rencong dan sekitarnya. Potret bencana terbesar di Indonesia pasca-letusan Gunung Tambora dan Krakatau itu terekam di Museum Tsunami Aceh. Selain itu ada pula PLTD Apung, yang kini dijadikan salah tempat wisata ‘berbau’ tsunami.

1. Masjid Raya Baiturrahman 

Sebelum ke Museum Tsunami, saya menyempatkan diri ‘menghadap’ Sang Kuasa di Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M itu juga menjadi saksi bisu ganasnya tsunami. Jafar, Driver hotel tempat saya menginap menceritakan bagaimana air bah tsunami menerjang masjid tersebut.

Menurutnya, air yang menerjang Kota Banda Aceh 12 tahun lalu itu ketinggiannya mencapi 5 sampai 7 meter. Namun, masjid terbesar di Serambi Mekah itu tak mengalami kerusakan berarti. Hanya saja jam dinding yang menggantung di tembok luar terseret dan mati. Masjid tersebut juga menjadi tempat berlindung warga Aceh dari terjangan tsunami.

Masjid Raya itu kini tengah bersolek. Ada payung-payung ‘raksasa’ yang sedang dipasang. Jumlah payung yang dibangun sebanyak 12 buah. Namun, belum semuanya selesai dikerjakan. Pemasangan payung-payung tersebut menyerupai payung yang berada di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.

Bisa dibilang Masjid Raya Baiturrahman bak ‘Masjid Nabawi’-nya Indonesia.

Payung-payung tersebut didominasi warna putih dengan variasi warna kuning dan hijau di tepian payungnya. Tiang penyangga payung itu dilengkapi dengan lampu-lampu. Beberapa kali payung-payung yang sudah selesai dikerjakan dibuka lebar. Payung tersebut dibuka ketika Salat Jumat.

Bila semua payung telah jadi dan dibuka seluruhnya, maka pelataran masjid bersejarah itu akan tertutup dan melindungi jamaah yang tengah beribadah. Pasalnya ketika Salat Jumat, warga Aceh berbondong-bondong salat di masjid tersebut dan selalu membludak hingga halaman luar.

2. Museum Tsunami Aceh 

Puas menikmati kemegahan Masjid Raya Baiturrahman, saya pun langsung menuju Museum Tsunami Aceh. Museum yang diperuntukan sebagai monumen pengingat bencana besar itu mulai dibuka untuk umum sejak 8 Mei 2009. Bangunan nan indah itu dirancang oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Tenang saja, untuk masuk ke museum tersebut kita tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis. Pertama masuk, kita akan mengawalinya dari jalan lorong, yang kanan kirinya mengalir air. Sepanjang jalan itu kita akan mendengar suara-suara warga Aceh ketika tsunami meratakan rumah dan menyeret keluarga mereka.

Suara tangis, takbir, minta tolong, samar-samar terdengar setiap pengunjung museum itu. Tak ayal, bulu kuduk kita dibuat merinding dan pikiran kita melayang, membayangi tragedi tersebut. Lorong tersebut tak begitu panjang, hanya sekira 300 meter. Selepas lorong, kita akan disugukan foto-foto pasca-kejadian tsunami yang termuat di sebuah layar berukuran sekira 14 inci.

Usai meihat-lihat sejenak foto dahsyatnya tsunami Aceh dari layar kecil itu, tempat berikutnya yang di lalui adalah Sumur Doa. Tempat tersebut berbentuk seperti tabung, yang menjulang ke atas. Nama-nama korban terpasang di dinding Sumur Doa itu. Meski tak semua nama korban ada di situ. Di atas Sumur Doa ini tertulis lafaz Sang Kuasa.

Para pengunjung pun menyempatkan diri memanjatkan doa untuk mereka yang menjadi korban tsunami pada 2004 silam itu.

Setelah dari Sumur Doa, kita akan melewati sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat kolam. Dari jembatan itu terlihat bendera negara-negara yang memberikan bantuan untuk korban tsunami. Beranjak ke lantai 2 kita akan melihat ruangan yang menempatkan foto-foto perbedaan, wilayah Aceh sebelum dan sesudah diterjang tsunami.

Di museum tersebut juga dilengkapi ruang pemuturan film. Ada juga ruang pertunjukan lengkap dengan tribun penonton dan panggung yang berada di bawahnya. Selain itu, ada juga bangkai mobil,  dll yang rusak akibat terjangan gelombang tsunami. Bila diperhatikan, tembok luar museum yang mulai dibangun pada 2007 itu menyerupai anyaman bambu.

Setelah cukup melihat keganasan gelombang tsunami dan kesedihan warga Aceh, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Situs Tsunami PLTD Apung.

3. PLTD Apung


Situs tersebut merupakan kapal pembangkit listrik yang terseret gelombang tsunami hingga ke daratan. Sama seperti di Museum Tsunami Aceh, untuk masuk ke PLTD Apung tak perlu membayar tiket.

Kapal pembangkit listrik ini cukup besar. Menurut Jafar, salah satu situs tsunami itu baru dipugar. Pagar besi pun dipasang mengelilingi kapal tersebut. Di lokasi situs tersebut terdapat reruntuhan bangunan rumah yang sengaja tak dirobohkan.

Di dekat kapal itu juga dibangun sebuah tower. Lalu ada juga jembatan penghubung antara tower dengan kapal pembangkit listrik itu. Jembatan ini berfungsi juga untuk menuju ke kapal yang bertuliskan PLTD Apung I. Saya mencoba naik ke atas gladak kapal nahas itu. Bila kita ingin naik ke kapal tersebut perlu menaiki tangga yang akan membuat nafas terengah. Mengingat kapal pembangkit listrik ini cukup tinggi.

Sementara itu, di atas kapal ini kita bisa melihat wilayah Kota Banda Aceh. Ada teropong yang bisa gunakan jika ingin melihat lebih jauh. Kita cukup memasukan koin agar teropong tersebut bisa berfungsi. Meski merupakan pembangkit listrik, kapal tersebut sudah aman lantaran seluruh instalasi yang ada sudah diambil. Selain itu, pintu masuk ke dalam kapal juga tak dibuka untuk umum.

Tempat-tempat diatas adalah beberapa lokasi yang saat ini telah dijadikan tujuan rekreasi untuk para pengunjung kota Aceh untuk mengetahui dan mengingat kembali bencana alam yang menimpa kota dengan julukan Serambi Mekkah tersebut. Untuk kalian anak muda yang memiliki rencana untuk mengunjungi kota Aceh jangan lupa kunjungi tempat-tempat diatas sebagai salah satu tujuan destinasi kalian. (Setyawan)

line at radio pemuda fm

4 Komentar »

  1. Kelapa Sawit Selasa, 11 Apr 2017 | 15:06 WIB at 15:06 WIB - Reply

    pingin bsa berkunjung ke masjid aceh..

  2. Saat Santai Minggu, 16 Apr 2017 | 16:46 WIB at 16:46 WIB - Reply

    Emang benar, pada saat itu Tsunami Aceh merupakan salah satu bencana besar yang dialami oleh Indonesia.

  3. AyokNikah Selasa, 18 Apr 2017 | 11:35 WIB at 11:35 WIB - Reply

    Semoga bencana besar itu tidak terulang lagi di Indonesia. Semoga Indonesia selalu dilindungi dari bencana-bencana yang mengakibatkan kerugian yang besar

  4. AyokNikah Selasa, 18 Apr 2017 | 11:59 WIB at 11:59 WIB - Reply

    Bisa dibayangkan ganasnya tsunami pada saat itu, kapal saja sampai terbawa ke daratan

Berikan Komentar: