Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Wayang untuk Penonton Global

admin Tuesday, 24 Dec 2013 | 14:50 WIB 0 1444 Views
Wayang untuk Penonton Global

BAGAIMANA wayang kulit disuguhkan kepada masyarakat global? Dalang Ki Purbo Asmoro, dibantu Kathryn Emerson, dan Yayasan Lontar mengemas pergelaran wayang kulit dalam paket pendidikan wayang kulit. Paket berupa buku dan video itu disuguhkan dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, dan Inggris.

Ki Purbo Asmoro mendalang dengan tiga kelir atau layar. Layar utama yang terletak di bagian tengah adalah tempat ki dalang mendalang dengan sekotak wayangnya. Dua layar di bagian kanan dan kiri layar utama merupakan tempat teks. Di kedua layar itulah tuturan dalang diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris. Penerjemahnya adalah Kathryn Emerson atau Kathy. Duduk di kanan depan layar, Kathy dengan komputernya menjadi semacam ”dalang bayangan”. Ia menerjemahkan seluruh kejadian di jagat pewayangan yang didalangi Purbo Asmoro.

Dalam pergelaran di Soehana Hall, Energy Building, Jakarta Selatan, 26 November lalu, Purbo Asmoro didampingi Kathy mementaskan lakon Wahyu Purbo Sejati. Kompak sebagai dwitunggal, mereka menggelar pertunjukan wayang di depan penonton yang beragam. Sebagian besar penonton tidak mengerti bahasa Jawa, termasuk para ekspatriat.

Kathy tidak hanya menerjemahkan apa yang dituturkan Purbo. Ia juga menjelaskan atmosfer dan makna setiap gerakan dari tokoh wayang yang digerakkan sang dalang. Kathy, misalnya, menjelaskan makna posisi tangan tokoh Rama lewat teks di layar. ”From the position of his hand, we know that he is in grief…/ dari posisi tangannya kita tahu ia sedang berduka…”.

Dengan model pementasan wayang kulit seperti itu, Purbo dan Kathy pernah wayangan di New York, Washington DC, Chicago, dan sejumlah kota di Amerika Serikat. Mereka juga tampil di Inggris, Austria, Bolivia, Jepang, Thailand, India, dan Singapura. Model pentas wayang kulit semacam itu ternyata cukup komunikatif. Bahkan, penonton bisa tertawa mendengar percakapan tokoh-tokoh lewat terjemahan Kathy.

”Waktu Gendari ngonek-onekke (memaki-maki) Sengkuni, penonton di luar negeri bisa gerrr…,” kata Purbo Asmoro.

Dari pengalaman mendalang di sejumlah negara, Purbo semakin yakin bahwa nilai-nilai moral, kebenaran hakiki dalam cerita wayang itu bersifat universal. Bagi Purbo, pertunjukan wayang kulit adalah penyampaian pesan moral, tata nilai, dan keutamaan hidup. ”Di belahan dunia mana pun sama saja. Kebaikan akan selalu unggul. Maka, kami tak kesulitan pentas di mana pun.”

Paket wayang

Untuk lebih memudahkan masyarakat global menikmati wayang kulit, berikut nilai-nilai moralnya, Yayasan Lontar didukung Total E&P Indonesie mengajak Purbo Asmoro dan Kathryn Emerson membuat paket pendidikan wayang. Paket yang diluncurkan di Jakarta pada Selasa, 26 November, itu berupa buku Makutharama dan Sesaji Raja Suya masing-masing dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, Inggris. Lakon tersebut masing-masing dipentaskan dalam tiga versi, yaitu klasik, kontemporer, dan pakeliran padat.

Dalam paket juga disertakan satu buku transkrip notasi gending-gending pengiring (Wayang Scores), termasuk teks sulukan, koor vokal, dan langgam dari enam pentas wayang kulit. Paket juga berisi video lakon Makutharama dan Sesaji Raja Suya dalam tiga versi pementasan klasik, kontemporer, dan padat disertai subtitle dalam bahasa Inggris.

Kestity Pringgoharjono, Direktur Eksekutif Yayasan Lontar, mengaku menjadi lebih memahami wayang lewat paket pendidikan wayang tersebut. John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar, berharap paket pendidikan wayang bisa menjadi alat bantu mengajar di sekolah-sekolah, baik di Indonesia maupun di negara lain. Paket tersebut juga diharapkan menjadi jembatan antara budaya Indonesia dan masyarakat global.

Purbo Asmoro memuji Kathryn Emerson yang dengan tekun, sabar, dan teliti mentranskrip segala ucapan Purbo Asmoro pada dua lakon itu ke dalam tiga bahasa. Kathy, perempuan dari Kalamazoo, Michigan, Amerika Serikat, bekerja sama dengan Purbo sejak tahun 2004. Tinggal di Indonesia sejak 1992, Kathy belajar gamelan selama 10 tahun dan kini mengajar di Jakarta International School. ”Proyek pendokumentasian budaya wayang ini benar-benar kerja gila-gilaan,” kata Purbo.

”Dinasti” dalang

Purbo Asmoro lahir dari ”dinasti” dalang di Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ayahnya, Sumarno; kakeknya, Suradi; dan kakek buyutnya, Kromo; semuanya adalah dalang. Agak berbeda dengan pendahulunya, Purbo mengenyam pendidikan akademis perdalangan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), Solo. Ia melanjutkan ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Solo, lulus tahun 1986.

Purbo mulai mendalang dari desa ke desa. Kemampuan mendalang Purbo mendapat pujian dari dalang-dalang senior ketika ia mendapat kesempatan tampil di rumah dalang Anom Suroto di Kampung Notodiningratan, Solo, pada 1988. Sejak itu, namanya sering disebut-sebut dalam dunia perdalangan. Seturut dengan itu pula, nama Purbo Asmoro bertambah populer dan laris mendalang. Ia beberapa kali mendalang di Istana Negara, Jakarta.

Purbo Asmoro memilih lakon Wahyu Makutharama dan Sesaji Raja Suya untuk paket pendidikan wayang karena ceritanya mengandung ajaran yang relevan bagi kehidupan di belahan bumi mana pun di segala zaman. Ajaran Hastabrata atau delapan laku, menurut Purbo, merupakan konsep kepemimpinan yang ideal. ”Intinya adalah kepemimpinan bagi keutamaan hidup.”

Kedelapan laku tersebut mengacu pada watak alam, yaitu matahari, bulan, bintang, langit, angin, laut, api, dan tanah/bumi. Matahari, misalnya, memberi terang ke seluruh dunia serta menjadi penghidupan bagi seluruh makhluk. ”Demikian juga seorang pemimpin, harus menjadi sumber penerangan serta penghidupan bagi seluruh rakyat…,” ujar Purbo.

Dalam Hastabrata disebut pemimpin harus belajar pada watak samudra. Ia adalah manusia yang lapang dada. ”Tidak mudah sakit hati karena kritik, tetapi juga tidak lengah oleh pujian,” kata Purbo.

Intinya, lanjut Purbo, seorang pemimpin itu harus bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. ”Bagaimana akan memimpin orang lain kalau memimpin diri sendiri saja enggak bisa. Mengekang hawa nafsu sendiri saja tidak mampu, bagaimana ia bisa memimpin….” (Frans Sartono); Kompas.com

Berikan Komentar: