Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Inilah Kisah Monumen Pecah Kulit di Museum Taman Prasasti

admin Monday, 10 Mar 2014 | 14:51 WIB 0 807 Views
Inilah Kisah Monumen Pecah Kulit di Museum Taman Prasasti

Di Museum Taman Prasasti Jakarta, tampak sebuah monumen berdiri kokoh. Di atasnya, terdapat tengkorak yang tertancap pada ujung tombak. Di dinding monumen, tertulis kalimat dalam bahasa Belanda dan bahasa Jawa.

“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722”.

Tulisan tersebut bercerita mengenai asal muasal sang monumen, sebagai peringatan atas hukuman yang dijatuhkan pada pemberontak Belanda di masa lalu. Monumen ini sungguh membawa saya ke dalam rasa penasaran atas peristiwa yang menjadi asal muasalnya. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan peristiwa pecah kulit.

Pieter Elberverd adalah keturunan Indo dan merupakan tuan tanah kaya raya yang tinggal di kawasan Pangeran Jayakarta. Suatu waktu, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sebagai pihak yang berkuasa ingin memperluas wilayah dan menyita tanah-tanah di Batavia, termasuk tanah milik Pieter Elberverd. Tanah-tanah tersebut disita tanpa adanya ganti rugi.

Tidak terima dengan hal tersebut, Pieter Elberverd pun merencanakan pemberontakan. “Kebetulan pada saat itu, banyak pemberontak lokal. Elberverd dan para pemberontak tersebut merencanakan kudeta,” cerita Aji, pemandu dari Komunitas Love Our Heritage (LOH).

Pemberontakan direncanakan saat perayaan tahun baru, ketika pihak Belanda sedang bersenang-senang merayakan pergantian tahun hingga mabuk. Sayangnya, rencana pemberontakan mereka dibocorkan oleh pembantu Pieter Elberverd sendiri.

Menjelang perayaan tahun baru, Elberverd dan rekan-rekannya justru ditangkap terlebih dahulu oleh pihak VOC. Mereka pun diberi hukuman yang keji karena telah memberontak.

Kedua tangan dan kaki mereka diikat pada tali tambang. Keempat ujung tali tambang kemudian diikatkan pada kuda-kuda pilihan yang sangat kuat. Kemudian, kuda-kuda tersebut dilecut hingga berlari ke arah-arah yang berlawanan. Badan Elberverd dan rekan-rekannya pun terkoyak. Daging mereka terburai, kulit mereka pecah. Itu lah mengapa peristiwa tersebut diberi nama peristiwa pecah kulit.

“Itu lah hukuman yang diberikan oleh Belanda terhadap siapa pun yang memberontak. Setelah hukuman tersebut, dibangun lah monumen peringatan atas peristiwa tersebut oleh Belanda. Ada tengkorak, karena kepala mereka juga dipenggal,” jelas Aji.

Monumen perisitiwa pecah kulit hanya lah satu dari sekian banyak prasasti bersejarah yang terdapat di Museum Taman Prasasti. Sebagai tempat pemakaman pertama di dunia, museum ini menyimpan nisan dari makam isteri Thomas Stamford Rafless, peti jenazah Soekarno dan Hatta, monumen peringatan Soe Hok Gie, dan banyak prasasti lainnya.
Di sini, patung dan nisan bergaya Eropa menjadi pemandangan biasa. Menjadikan Museum Taman Prasasti berbeda dengan museum maupun taman pemakaman lainnya di Jakarta. Menggambarkan peradaban kolonialisme yang tersisa di Jakarta.
Sumber: Kompas.com

Berikan Komentar: