Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Kisah Heroik “Rambo” Pratu Suparlan Melawan Puluhan Musuh Demi Negara

admin Wednesday, 3 Jan 2018 | 8:26 WIB 0 55 Views
Kisah Heroik “Rambo” Pratu Suparlan Melawan Puluhan Musuh Demi Negara

PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Ada kisah heroik dari salah satu prajurit kebanggan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kehebatannya mirip seperti film Rambo yang mengalahkan puluhan prajurit. Prada Satu (Pratu) Suparlan berhasil membunuh puluhan pasukan Fretelin di Timor Timur hanya seorang diri. Dan kisahnya pun melegenda di kalangan prajurit Kopassus.

Cerita bermula pada 9 Januari 1983 di Timor Timur, saat satu unit gabungan tentara Nanggala-LII Kopassandha pimpinan Letnan Poniman Dasuki, tengah berpatroli di Komplek Liasidi, suatu daerah sangat rawan di pedalaman. Daerah tersebut merupakan tempatnya para pentolan pemberontak Fretilin yang tak sungkan menghabisi anggota TNI yang mereka jumpai. Tiba tiba sepasukan kecil TNI ini dihadang oleh sekitar 300an Fretilin (sayap militer terlatih Timor-Timur) lengkap bersenjatakan senapan serbu, mortar, dan GLM.

Dan terjadilah pertempuran tak seimbang antara ratusan Fretilin dengan pasukan kecil TNI pada posisi di pinggir jurang. Satu per satu anggota pasukan kecil ini gugur, dimangsa peluru Fretilin. Menyadari hal ini Komandan tim segera memerintahkan pasukan untuk meloloskan diri ke satu-satunya peluang, yaitu ke celah bukit. Namun hanya sedikit waktu yang tersisa bagi pasukan kecil ini, sehingga Pratu Suparlan menyatakan pada komandannya untuk terus maju, sementara ia sendiri memilih untuk menghadang musuh.

Di sinilah jiwa seorang patriot terbukti, Pratu Suparlan menunjukkan sifat kepahlawanannya, antara kehormatannya sebagai laki-laki, Prajurit, Korps dan negaranya, Tanpa menghiraukan peringatan Dan Unitnya agar mundur. Lalu Pratu Suparlan membuang senjatanya dan mengambil senapan mesin milik rekannya yang gugur. Tanpa gentar sedikit pun, ia menerjang ke arah pasukan Fretilin tidak terhitung berapa peluru yang sudah bersarang di badannya. Tapi walaupun bersimbah darah, prajurit Kopassus ini tetap tegar bagaikan banteng. Bukannya roboh seperti harapan musuh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau Komandonya, lalu berlari mengejar Fretilin ke tengah semak belukar, dan merobohkan 6 personil pasukan fretelin hanya dengan pisaunya, hingga akhirnya tanggannya tidak mampu lagi menggenggam pisau.

Ia memang kehabisan darah. Namun ia tak pernah kehabisan akal maupun semangat, untuk membela Ibu Pertiwi, dari rongrongan pemberontak. Saat jatuh terduduk, pasukan Fretilin segera mengerumuninya, dan memberikan sebuah tembakan di lehernya. Setelah puluhan musuh makin dekat mengepungnya, dengan sisa tenaga yang ada, ia susupkan tangan ke kantong celana. Dalam hitungan detik, dicabutnya pin granat, lalu ia melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar” Granat pun meledak diringi dengan robohnya puluhan prajurit fertelin, bersama seorang prajurit pemberani bernama Prajurit Satu Suparlan.

Mengetahui gugurnya Suparlan, sisa 5 personil yang tadi meloloskan diri dan sudah menguasai ketinggian, berbalik menyerang dan menembak kerumunan Fretilin dari ketinggian dengan bertubi-tubi. Tak lama, pasukan bantuan pun tiba, dan segera membantu memukul mundur Fretelin. Ketika pertempuran yang berlangsung hingga malam ini akhirnya berhenti, pasukan bantuan menemukan puluhan prajurit yang gugur, dari kedua belah pihak. Hasil jerih payah dan keberanian Pratu Suparlan melawan musuh hanya kehilangan 7 orang termasuk diri nya sendiri yang gugur dari pihak TNI sedangkan dari pihak Fretelin kehilangan 83 orang dan sisanya beberapa ditangkap hidup hidup.

Sebagai kehormatan atas jasa, keberanian, kecerdasan, dan baktinya pada negara, maka negara menganugerahi KPLB (Kenaikan Pangkat Luar Biasa) kepada Prajurit Satu Suparlan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula yaitu Kopda (Anm). Namanya juga terpahat di atas batu granit hitam Monumen Seroja, di Komplek Markas Besar TNI Cilangkap, serta diabadikan sebagai nama Lapangan Udara Perintis di Pusdikpasus Batujajar Bandung yang diresmikan oleh Kasad Jendral TNI Edi Sudrajat pada 26 Mei 1991.

Jadi, itulah kisah seorang prajurit pemberani yang tidak takut mati demi membela Indonesia, sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus bangsa bisa menjaga Indonesia dari tangan tangan jahat karena Indonesia merdeka diatas air matam keringan dan juga darah. (Fariz)

Berikan Komentar: