Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Working Class Hero: Marsinah, Sosok Inspirasi Perjuangan Buruh

admin Senin, 1 Mei 2017 | 10:30 WIB 0 147 Views


PEMUDAFM.COM, Radionya anak muda – Tahukah anak muda setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal dengan sebutan May Day. Di Indonesia sendiri sejak masa pemerintahan Orde Baru, tanggal 1 Mei bukan lagi hari untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi, hal ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan yang dicurigai pemerintah dan ideologi yang sangat ditabukan di Indonesia.

Tetapi mulai tanggal 1 Mei 2014 lalu, pemerintah telah mengembalikan sejarah tersebut dengan menjadikan 1 Mei sebagai hari buruh & hari  libur nasional. Hari tersebut memiliki arti yang sangat mendalam bagi kaum buruh di dunia maupun di Indonesia, karena di Indonesia sendiri para kaum buruh memiliki perjalanan perlawanan yang cukup panjang.

Dibalik perjuangan para buruh untuk terus dapat menaikan taraf hidupnya lebih layak, terdapat beberapa sosok inspiratif kaum buruh di Indonesia. Salah satunya yaitu buruh perempuan Indonesia, Marsinah. Pejuang buruh perempuan asal Nganjuk yang sangat berani dalam memperjuangkan haknya sebagai kaum buruh.

Anak ke dua dari tiga bersuadara ini lahir pada tanggal 10 April 1969. Saat Marsinah baru berusia 3 tahun, Ibunya meninggal dunia kemudian bayi Marsinah diasuh oleh neneknya Pu’irah yang tinggal bersama bibinya Sini di desa Nglundo,Nganjuk,Jawa Timur.

Marsinah menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Karangasem 189 dan dilanjutkan di SMPN 5 Nganjuk. Sejak kecil Marsinah sudah berusaha untuk mandiri, ia memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan tambahan melalui hasil  berjualan makanan kecil, hal ini disedari karena Nenek & Bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari.

Marsinah memang dikenal sebagai anak yang rajin, ketika memasuki masa remaja dan bersekolah di SMA Muhammadiyah, ia selalu juara kelas serta memiliki semangat belajar yang tinggi, Namun faktor ekonomi menjadi hambatan saat Marsinah ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Namun Marsinah tidak menyerah begitu saja, ia yakin bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang. Semangat belajar tinggi terlihat dari kebiasaannya menghimpun berbagai informasi lewat berita di radio maupun di televisi. Minat membacanya pun juga tinggi. Jika ada waktu luang, ia sering membuat kliping koran,bahkan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian pundi-pundi hasil ia bekerja untuk membeli koran dan majalah bekas, walaupun pendapatannya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari.

Marsinah mencoba mengadu nasib dengan cara meninggalkan desanya dengan pergi ke kota. Sebab Kesempatan kerja di pedesaan sebagai buruh tani semakin kecil peluangnya. Sungguh ironi memang di negara Agraris seperti Indonesia saja hal itu biasa terjadi,ya itulah realita yang ada. Perkembangan teknologi bukannya meningkatkan kesejahteraan rakyat, malah justru menyingkirkan para buruh tani.

Indonesia sendiri krisis regenerasi petani muda, Urbanisasi-modernisasi-industrialisasi jadi penyebab profesi petani dijauhi anak muda. Iming-iming gemerlapnya kerja kantoran membuat Indonesia berpotensi kehilangan Identitasnya sebagai negara agraris, generasi muda makin banyak yang mejauhi profesi sebagai petani.

Singkat cerita, Marsinah mengirimkan sejumlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto dan Gresik .Pada akhirnya Marsinah diterima di pabrik sepatu Bata di Surabaya tahun 1989 dan memulai cerita hidupnya sebagai buruh, seperti jutaan tani yang terseret ke pabrik-pabrik karena tingkat kemiskinan yang parah di desa-desa, beberapa saat kemudian Marsinah pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri, sebelum pada akhirnya Marsinah pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Marsinah Berjuang

Marsinah dikenal sebagai seorang ramah dan setia kawan. Kalau ada yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia acap kali membantu teman-temannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Marsinah juga dikenal sebagai seorang pemberani.

Tahun 1990an terjadi inflasi sehingga gaji buruh menurun, Puncaknya pada tahun 1993 nasib buruh kian terpuruk. Marsinah memimpin aksi pekerja PT Catur Putra Surya untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari. Hal ini sesuai dengan instruksi Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi; “himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok.”

Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya) pabrik tempat Marsinah bekerja menyambut dengan senang hati kabar kenaikan upah tersebut. Jelas himbauan ini hanya menjadi angin lewat bagi PT. CPS karena hal tersebut akan membuat rugi perusahaan dan ini membuat resah para buruh.

Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 buruh PT. CPS melakukan aksi mogok kerja dan menuntut kenaikan upah sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Sebagian buruh berbondong-bondong mengajak teman-teman mereka untuk mogok kerja. Pada hari itu juga,Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Lalu pada 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan aksi unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Mereka serentak masuk pagi dan solid bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Aksi tersebut membuat pihak PT.CPS Geram, Pihak keamanan yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh tersebut.

Namun Penanganan berada di pihak SPSI. SPSI sendiri adalah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Pengusaha & Pihak yang berwajib. Lalu apakah semua itu cukup berhenti sampai situ saja?  Ternyata tidak, tanggal 5 Mei 1993, beberapa buruh yang aktif unjuk rasa dipanggil ke kantor kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Mereka mendesak agar buruh-buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena adanya tekanan dari oknum tersebut, dua hari kemudian menyusul beberapa buruh lagi di PHK di tempat yang sama pula.

Marsinah sadar betul bahwa peristiwa yang menimpa kawan dan juga dirinya sendiri adalah ketidakberesan yang terjadi dinegri kapitalis ini. Marsinah mendatangi Kodim Sidoarjo sendirian pada hari itu juga untuk menanyakan nasib teman-temannya yang dibawa ke sana. Marsinah tidak gentar meski mendapat ancaman, Marsinah tetap melakukan pertemuan dan mendampingi teman-temannya. Sebenarnya para buruh pun sudah puas dengan keputusan perusahaan yang menaikan gaji. Bahkan Marsinah meminta teman-temannya giat bekerja karena perjuangan sudah selesai.

Sekitar pukul 10 malam, Marsinah hilang bak ditelan bumi. Teman-teman Marsinah tidak mengetahui keberadaannya sampai tanggal 9 Mei, ketika mayat Marsinah ditemukan di pinggiran hutan jati Wilangan. Jasadnya ditemukan dengan kondisi sangat memprihatinkan dan sangat keji orang yang tega melakukan hal itu. Berdasarkan hasil autopsi Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Soetomo Surabaya) dan Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) ditemukan penyebab kematian Marsinah adalah penyiksaan berat.

Kasus Marsinah sendiri merupakan sebuah catatan hitam bagi penegakan keadilan dan demokrasi di Indonesia. Kasus Marsinah ini tercatat oleh ILO (International Labor Organization) sebagai peristiwa 1713 yang belum menemui titik terang hingga saat ini.

Peran Marsinah sebagai pejuang buruh ;
1. Upah minimum tetap diberlakukan
2. Perhitungan upah lembur yang sesuai,
3. Pembayaran upah bagi karyawan wanita yang sedang mengambil cuti haid
4. Pemberian THR yang sesuai
5. SPSI difungsikan dengan sesuai

Kisah Marsinah lebih dari sekedar menyambut Hari Buruh atau Mayday. Kisah Marsinah adalah tentang perjuangan yang masih ia terikan dari liang lahatnya sampai detik ini. Kisah Marsinah juga sebagai pembelajaran untuk para anak muda agar lebih mengetahui hak-hak yang kita dapatkan sebagai warga negara. (Frigi)

line at radio pemuda fm

Berikan Komentar: