Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Mengenal Persekusi, Ancaman Serius Kebebasan Berekspresi

admin Friday, 2 Jun 2017 | 13:05 WIB 0 123 Views


PEMUDAFM.COM, Radio Online Indonesia – Hari kamis pada tanggal 1 Juni 2017 bertepatan dengan Hari lahirnya Pancasila, Koalisi Anti Persekusi melakukan konferensi pers di YLBHI dalam menyikapi fenomena permasalahan persekusi yang marak muncul di media sosial.

Sebelumnya telah terjadi 2 kasus persekusi yang menjadi perhatian publik yaitu kejadian yang dialami oleh Dokter Fiera Lovita seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Solok, Sumatera Barat, yang merasa tertekan setelah mengalami persekusi berupa teror dan intimidasi oleh sekelompok orang setelah mengunggah status di Facebook yang bernada sindiran terhadap tokoh tertentu. Meskipun sudah meminta maaf atas status yang ia buat, Dr. Fiera terus mendapatkan terror sehingga mengakibatkan dirinya beserta dua anaknya harus keluar dari Kota Solok, Sumatera Barat ke Jakarta demi keselamatannya.

Selain Dokter Fiera Lovita, tindakan persekusi juga dialami oleh remaja bernama Putra Mario Alfian, kejadian ini menjadi perhatian publik setelah video yang mempertontonkan ia mendapatkan kekerasan secara verbal oleh sejumlah orang dan diminta tandatangan surat bermaterai permintaan maaf banyak disebarkan melalui media sosial. Remaja berkacamata itu dituduh telah mengolok-olok salah satu ormas keagamaan beserta pimpinannya melalui postingan media sosialnya.

Istilah persekusi masih jarang terdengar oleh banyak orang awam dan sering disamakan dengan main hakim sendiri. Regional Coordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto menjelaskan bahwa persekusi dapat diartikan sebagai tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan suatu pihak secara sewenang wenang, sistematis, dan luas. Menurut Damar penekanan persekusi ada pada memburu manusia secara sistematis dan luas. Setidaknya ada beberapa tahapan persekusi yang ditemukan dilapangan, yaitu: Penentuan Target, Ajakan Berburu, Mobilisasi, dan Kriminalisasi. Jadi, perbedaan persekusi dengan main hakim sendiri terdapat pada rangkaian tahapan yang sistematis.

SAFEnet menemukan adanya persekusi terhadap orang orang yang dilabeli sebagai penista agama atau ulama sejumlah 52 orang dalam periode 27 Januari – 31 Mei 2017. Dan hanya dalam beberapa hari, Koalisi Anti Persekusi menemukan 7 orang lain sehingga jumlah saat ini bertambah menjadi 59 orang. Dari data statistik yang ditampilkan bulan Januari – Mei terjadi peningkatan kasus persekusi dan di bulan Mei menjadi bulan paling tinggi. Damar Juniarto merasa harus ada upaya mewaspadai persekusi ini karena jika tidak adanya upaya penghentian, persekusi bisa lebih luas lagi terjadi di Indonesia.

Lebih lanjut Asfinawati dari YLBHI mengungkapkan alasannya mengapa mereka menggunakan istilah persekusi, karena persekusi lahir dalam konteks kejahatan kemanusiaan yang memerlukan dua syarat yaitu sistematis dan meluas. Ia mengungkapkan ada sebuah niat dengan menggunakan kata “diburu atau perburuan” di dalam website yang artinya dengan sangat sengaja ditujukan ada sebuah perburuan dengan sebuah perencanaan. Menurut ketua umum YLBHI ini, ada sekelompok orang yang menjadi polisi, jaksa, dan hakim dalam satu tubuh tanpa melalui proses hukum sehingga mereka dapat mengekang kemerdekaan seseorang dan melakukan kekerasan.

Hal ini menjadi sangat berbahaya karena jika dibiarkan negara akan lumpuh dan kalah oleh sekelompok orang ini. Maka dari itu Koalisi Anti Persekusi menuntut Negara untuk menyelidiki lebih dalam siapa aktor yang sungguh sungguh menjadi perancang mesin persekusi ini.

Persekusi ini jelas mengancam demokrasi karena sekelompok orang mengambil alih negara untuk menetapkan seseorang bersalah dan melakukan penghukuman tanpa melalui proses hukum. Ketakutan yang menyebar akan menjadi teror yang melumpuhkan fungsi masyarakat sebagai ruang untuk saling berbicara, berdebat secara damai sehingga menjadi masyarakat yang dewasa dalam menyikapi perdebatan.

Selain menolak keras atas tindakan persekusi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, Yanuarti dari Mafindo dalam kasus ini juga menekankan agar masyarakat dapat lebih cermat dalam menggunakan media sosial dan juga perlunya ada pemberian edukasi kepada netizen agar dapat menahan diri untuk tidak membuat status atau postingan yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Sejatinya sebuah kebebasan itu tidak sepenuhnya bebas untuk melakukan apa saja tetapi bebas dengan memperhatikan batasan-batasan yang ada dan batasan tersebut tidak boleh dilanggar.

Jadi, untuk para anak muda dan netizen sudah saatnya kita menjadi pengguna media sosial yang cerdas, saat ini bukan lagi Mulutmu Harimaumu tetapi sudah Jempolmu Harimaumu karena tindakan persekusi bisa dialami oleh siapa saja. Selain itu kita juga harus menjunjung tinggi rasa nyaman dalam berekspresi di media sosial sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan berpendapat yang telah diatur oleh undang-undang Negara Indonesia.

Oleh karena itu, apabila anak muda ada yang menerima perlakuan sewenang-wenang oleh sekelompok orang tak perlu takut melapor ke crisis center Koalisi Anti Persekusi. Koalisi Anti-Persekusi menyediakan layanan hotline dengan layanan telepon atau SMS ke nomor 0812-8693-8692. Ada juga layanan via email antipersekusi@gmail.com. (Fariz)

Berikan Komentar: