Bookmaker artbetting.co.uk - Bet365 review by ArtBetting.co.uk

Bookmaker artbetting.gr - Bet365 review by ArtBetting.gr

Germany bookmaker bet365 review by ArtBetting.de

Premium bigtheme.net by bigtheme.org

Di Hari Lahir Wiji Thukul, Keluarga Minta Jokowi Tak Lupakan Janji

admin Wednesday, 26 Aug 2015 | 18:17 WIB 0 1252 Views
Di Hari Lahir Wiji Thukul, Keluarga Minta Jokowi Tak Lupakan Janji

PEMUDAFM.COM – Penyair yang juga aktivis sosial Wiji Thukul genap berusia 52 tahun pada hari ini, Rabu 26 Agustus 2015. Namun, sampai hari ini pula kabar dimana keberadaannya pun belum diketahui sejak diketahui menghilang pada media 1998 menjelang Rezim Orde Baru tumbang.

Berjalannya waktu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi angin segar kepada sahabat terutama keluarga pria berperawakan kurus ini, lantaran berjanji akan menemukan dan menuntaskan kasus penghilang paksa 13 aktivis termasuk Wiji Thukul ketika berkampanye Pemilihan Presiden 2014 lalu.

Janji Presiden Jokowi itu tentu terngiang oleh keluarga, sahabat dan aktivitas pegiat Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka menunggu langkah maju dari pemerintah yang terkesan alpa terhadap dugaan penghilangan paksa yang menimpa Wiji Thukul dan 12 aktivis lainnya.

Wahyu Susilo, adik kandung Thukul -sapaan akrab Wiji Thukul- itu, menjadi salah seorang yang mengingat janji kampanye orang nomor satu di republik ini ketika itu. Saat hari lahir sang kakak, Wahyu menagih janji tersebut agar ucapan Presiden Jokowi saat setahun lalu itu menjadi tindakan yang nyata.

“Jokowi harus memenuhi janjinya sangat kampanye Pilpres akan mengusut tuntas kasus Wiji Thukul dan penghilangan paksa lainnya (12 Aktivis Reformasi),” tutur Susilo melalui pesan singkat, Rabu (26/8/2015).

Susilo yang kini aktif di Migrant Care ini, berharap pengungkapan kasus suami dari Siti Dyah Sujirah alias Sipon itu dan kedua belas orang lainnya tak semata hanya dengan membentuk komisi kebenaran serta rekonsiliasi. Namun, tambahnya, pemerintah harus berani menggelar pengadilan HAM.

“Pemerintahan sudah membuka ruang adanya pengungkapan pelanggaran HAM masalalu. Harus didorong keberanian untuk berani menggelar pengadilan HAM. Tidak hanya dengan komisi kebenaran dan rekonsiliasi,” tegas Susilo.

Thukul pria kelahiran 1963 silam itu memiliki dua orang anak. Mereka yakni Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Pria yang kurang bisa mengucapkan lafas huruf R ini, diketahui merupakan pembuat sajak-sajak berisi perlawanan terhadap pemerintah otoriter yang saat itu dipimpin Presiden Soeharto.

Salah satu puisi Thukul yang masih sering dilontarkan para aktivis sosial bahkan oleh anak keduanya Fajar Merah berjudul ‘Bunga dan Tembok’. Berikut sepenggal puisi ‘Bunga dan Tembok’ dari penyair yang hingga kini tak diketahui rimbanya hingga usia menginjak 52 tahun:

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

(Feri)

Berikan Komentar: